(2) Ketakutan lagi di Malam 1 Suro

Cerita sebelumnya (1) Ketakutan di Malam 1 Suro

Saya masih meringkuk terdiam. Sementara itu saya kuatkan daya pendengaran. Saya mencoba menangkap apa yang terjadi di lobby. Saya juga tak mau membayangkan kalau itu hantu, yang hanya terdengar suara sepatunya saja tanpa terlihat sosok di sana. Saya tidak mau mengarahkan pikiran saya ke sana. Ahhhh… Saya tidak mau terlena dalam suasana menegangkan ini. Saya mencoba berpikir positif. Saya mencoba membayangkan kalau memang tadi ada orang yang keluar dari lift. Benar-benar orang, bukan hantu.   Karena itulah, saya mencoba melepaskan ketegangan saya.

Saya menengok perlahan ke depan. Ke arah lift yang diam. Sepi. Hawa AC makin menusuk dingin. Saya mencoba bergerak bangun dari kursi. Mematikan rokok. Dan bergerak ke luar Smoking Room.  Perlahan saya munculkan kepala keluar dari pintu Smoking Room. Melihat ke kanan. Sepi.  Melihat ke kiri juga sepi. Namun, di meja security tampak sesosok orang duduk tertunduk. Dia menggunakan baju security.

Aneh, kenapa tertunduk?

Saya beranikan untuk menegurnya. “Oi”, tegurku.  Dia tetap menunduk.

Sengaja saya tegur seperti itu, karena saya tidak begitu kenal siapa seharusnya yang bertugas malam ini. Terlalu banyak security yang ada, dan juga terlalu sering mereka berganti-ganti, sehingga kami selaku karyawan dalam satu perusahaan kadang tidak sempat mengenal lebih dalam siapa saja securitynya.  Dan malam ini saya pikir, security ini adalah pekerja baru, sehingga saya hanya menegurnya seperti itu.

“Oi, Mas,” tegurku kembali.  Tapi kini dia menampakkan wajahnya. Hah. Aku tidak mau berpikir seram lagi. Aku tidak mau membayangkan kalau orang yang duduk di situ akan menampakkan wajah seramnya. Saya tidak mau terus menerus diteror oleh pikiranku sendiri dengan cerita seram, karena memang malam ini bertepatan dengan Malam 1 Suro. Malam angker, kata orang-orang.

Untungnya security itu tidak menampakkan wajah seramnya. Hehehe. Saya hanya tersenyum kecut. Lega karena mendapati kalau yang duduk di situ adalah benar-benar manusia, bukan jadi-jadian.  Dia tersenyum kecut pula. Tapi dia tetap diam.  Saya sepertinya merasakan hal yang tidak enak telah terjadi padanya, karena saya melihat wajahnya yang pucat.

Security ini kulitnya berwarna coklat, sehingga terlihat jelas bedanya dengan perbedaan yang mencolok di wajahnya yang pucat. Saya jadi curiga. Saya memberanikan diri kembali untuk menegurnya.

“Kenapa, Mas, kok aneh gitu tampangnya?”

“Enggak. Ngga apa-apa kok.”

Kami terdiam kembali.

“Lagi jaga di sini?” tanyaku.  Perlahan dia mengangguk.

“Kenapa sih?” tanyaku kembali.

“Enggak. Ngga ada apa-apa kok.”

Tiba-tiba telepon yang ada di meja security berbunyi. Security itu dengan sigap mengangkat telepon, “Ya, selamat malam. Security lantai 17 di sini”

Ya sudah, saat security ini sedang menerima telepon, saya jadi teringat kalau saya harus kembali ke kamar kerja saya untuk menyelesaikan pekerjaan. Barangkali saja jika bisa cepat selesai, saya bisa pulang lebih cepat. Gelisah juga bekerja dalam kondisi seperti ini.  Lalu saya bergerak ke dalam, ke kamar saya.

Kembali saya tekuni pekerjaan saya, memeriksa file-file di komputer. Memeriksa berkas-berkas laporan sambil duduk di sofa kamar saya. Wah, nyaman sekali bekerja tanpa ada suara berisik teman-teman kerja. Nyaman sekali bekerja dalam kesunyian. Sendirian.

Tiba-tiba … suara pintu diketuk. Saya kaget. Saya tidak mau membayangkan kalau pintu itu diketuk tapi ternyata tidak ada orang di belakang pintu itu …. Hiiiii … Aduuuh, saya terus terobsesi suasana seram.

Saya hanya diam. Tidak membuat suara apapun. Berusaha menahan nafas. Menunggu apakah pintu itu kembali diketuk dan mencoba mendengar suara-suara di belakang pintu itu.

Tidak ada suara kembali. Ah, mungkin hanya perasaan seram saja yang meneror pikiran saya. Saya tidak memperdulikannya. Saya kembali fokus ke berkas-berkas pekerjaan.

Namun, suara pintu diketuk kembali berbunyi. Saya hanya bisa menoleh memperhatikan gagang pintu. Hah, pikiran seram pun datang lagi. Bagaimana jika pintu gagang tersebut bergerak perlahan, mencoba membuka pintu, dan sesosok menakutkan muncul di pintu … Haaaahh… Saya lagi-lagi mencoba menolak pikiran seram itu.

Saya menggerakkan badan. Saya mencoba melawan ketakutan. Saya mencoba bersuara, serak, perlahan.

“Siapa?”

“Saya, Mas, Security yang tadi”.

Ah, saya bernafas lega. Saya kira siapa. Hahaha, beginilah kalau selalu berpikir seram, sehingga selalu dihantui bayangan-bayangan hantu.

“Ya, silakan masuk, Mas.”

Kemudian security itu masuk. “Maaf ya, Mas, yang tadi.” katanya.

Kemudian saya mempersilakan duduk. “Oh, ngga apa-apa, kok. Memangnya kenapa?”

“Enggak, Mas” katanya. “Begini …” Lalu dia terdiam. Security itu ragu-ragu. Wajah pucatnya masih tersisa.

“Hm… ya, kenapa, Mas?”

“Hm, begini … tadi itu … ” katanya. Saya mengerutkan dahi, sepertinya dia ingin bercerita sesuatu yang serius. Saya hanya diam mengamati.

“Tadi aneh aja.”

“Oh, ya. Aneh kenapa, Mas?”

“Tadi … tadi … tadi saya ketemu hal aneh di lantai 12″

Saya menegakkan badan. Memandang dia dalam-dalam. “Terus?”

“Saya kan security, saya harus memeriksa semua ruangan. Tidak perduli jam berapapun dan dalam keadaan apapun, karena saya harus laporkan kalau keadaan sudah aman.” Obrolannya sudah mulai lancar. Tapi tetap menambah kecurigaan.

“Tadi di lantai 12, saat saya keluar dari pintu lift, saya lihat ruangan sudah gelap semua. Karena itu, saya hanya melihat sekilas. Tapi saat saya mau kembali ke dalam lift, saya melihat ada orang yang duduk di meja security. Sepertinya orang itu wanita. Tapi dia menundukkan kepalanya.”

Saya tercengang mendengar ceritanya. Mulut saya kaku, tidak bisa menyanggah ceritanya. Wanita?

“Ya saya tegor dong.” lanjut security itu. “Mbak, mbak. Ngapain di situ, mbak? Nunggu siapa?” Saya yang mendengarnya mulai merasa kalau ceritanya itu adalah cerita yang tidak mengenakkan malam ini.

“Eh, wanita itu tetap saja tidak mau jawab, tetap saja dia nunduk. Jadi saya harus menegur kembali kan, karena saya harus tau, kenapa dia sendirian di lantai 12 yang sudah kosong. Apa dia karyawati yang menunggu jemputan? Tapi kok menunggunya di kegelapan seperti ini. Ya sudah, saya sebentar masuk ke dalam lift, mencoba mencari tombol stop di lift, biar lift berhenti sebentar sementara saya bertanya ke wanita itu. Setelah saya pencet tombol stop, dan meyakinkan kalau lift tidak bergerak kembali, saya keluar ke lift untuk bertanya ke wanita itu lagi.” Security ini makin lancar bercerita.

“Eh … tau ngga, Mas?” katanya. Saya makin tercengang melihat perubahan gaya ceritanya.

“Wanita itu udah ngga ada di meja itu lagi. Ngga tau menghilang kemana.”

Saya berusaha menelan ludah mendengar ceritanya. Astaga. Security ini bercerita kalau dia baru saja bertemu hantu.

“Ya saya tentu saja mencari ke arah lobby. Pergi kemana dia, ya?”

“Terus?” kataku terbata-bata.

“Baru saya bergerak beberapa langkah, eh saya jadi ingat, Mas, kalau malam ini malam jumat. Mungkin wanita yang tadi hantu, soalnya dia langsung menghilang. Ya sudah saya langsung kembali masuk lift, dan naik ke lantai 17 ini. Bukannya saya takut, tapi tugas saya kan memang kondisinya seperti ini.”

Saya hanya terdiam. Entah kenapa, tiba-tiba saya bertanya hal yang tidak penting, “Lantai 12, ya?”

“Iya. Emangnya kenapa, Mas? Saya kan orang baru di sini, Mas.”

“Enggak. Enggak ada apa-apa, kok” Padahal pikiran saya sudah mulai tidak fokus. Lantai 12. Sementara saya dan security ini berada di lantai 17.

Dan kalau pulang, turun menggunakan lift, pastinya akan melewati lantai 12 itu, kan. Hahhhh.

“Oke. Sekarang udah ngga ada apa-apa lagi, kan?” Tanya saya dengan sok memberanikan diri.

“Ya … itu, Mas … Itu sebabnya saya ke sini.”

“Lho memangnya kenapa? Sebab apa?”

“Tadi kan Mas lihat saya terima telepon.”

“Iya, kenapa? Boss kamu telepon, kan?”

“Bukan, Mas.”

“Trus, siapa? Sorry, bukannya mau tau urusan kamu, ya, Mas” kataku.

“Yang tadi telepon itu … ya … “

“Hm… siapa?”

“Ya wanita tadi, Mas”

Saya terperanjat mendengarnya. Hah. Ini bercanda atau serius? Masa sih ada hantu menelepon? Bagaimana mungkin dia tau nomor telpon yang ada di meja lantai 17? Saya melihat tampang si Security menunduk. Terdiam, sehingga membuat saya yakin kalau dia sedang tidak bercanda.

“Hah, serius nih?”

“Iya, Mas.” Saya makin diam. Bulu kuduk saya mulai merinding. Hawa mulai bertambah dingin.

“Kok Mas tau kalau wanita lantai 12 itu yang menelpon Mas?” tanyaku yang sudah mulai panik.

“Ya, yang di telepon itu bilang begini, …” Saya makin tegang mendengar ceritanya.

“Katanya, Ini Mas Security yang tadi negur saya, ya? Kenapa, Mas?… begitu Mas suara yang di telepon tadi.” kata Security. Hah. Hantu itu berbicara dengan Mas Security ini. Hah, makin panik saya … Apalagi saya melihat, security ini berbicara dengan nada serius, tidak terpancar guyonan di mukanya. Ini menjadikan saya makin yakin, kalau Security ini bicara jujur, tidak main-main dan bercanda.

Kami terdiam. Masing-masing berpikir dalam, pikiran kami menerawang.

Hanya kesunyian yang menemani kami.

Tiba-tiba dia bergerak. “Ya sudah, Mas. Saya kembali ke loby lagi. Maaf ya kalau tadi jadi ngga enak.”

“Oh ya sudah, silakan” kataku. Saya hanya diam terpaku melihat security bergerak.

“Sampai jam berapa, Mas,” katanya di ujung pintu.

“Sebentar lagi deh” jawabku.

Kemudian security ini pergi. Saya hanya terdiam di kamar saya. Sendirian. Gelisah. Merinding.

Pikiranku mulai kacau. Berusaha menganggap kalau ini hanya permainan belaka. Menganggap kalau security ini hanya menguji nyali saya saja yang sekarang ini sedang sendirian di lantai 17. Pikiran kacauku yang lain juga menerawang, kalau seandainya ini memang kejadian nyata, berarti saya akan melewati lantai 12 itu, lantainya wanita itu, lantainya hantu itu.

Film COMING SOON

Hah. Bayangkan kalau seandainya saat nanti saya turun menggunakan lift itu, dan lift itu berhenti di lantai 12, dan terbuka, dan …. haaaa … saya tidak mau membayangkan kalau hantu itu tiba-tiba muncul masuk ke dalam lift.  Saya juga tidak mau membayangkan kalau nanti terjadi seperti yang ada di film “COMING SOON”, film Thailand juga, yang ceritanya si tokoh utama terjebak di lift karena dikejar-kejar hantu perempuan. Dan saat di dalam lift, liftnya macet, lampu dalam lift berkedip-kedip dan akhirnya lampunya padam. Di dalam kegelapan lift, saat dia sangat ketakutan, hantu itu datang dari atas lift, perlahan mendekati, hingga membuat sang tokoh berteriak-teriak ketakutan, sambil berusaha sekuat tenaga untuk membuka pintu lift yang macet. Dan setelah bersusah payah, akhirnya pintu bisa terbuka. Tapi, tiba-tiba, setelah pintu terbuka, sang hantu dengan cepat menyergap si tokoh utama.

Huaaaah… Saya tidak mau kejadian di film itu juga terjadi pada saya saat nanti turun ke lantai dasar untuk pulang ke rumah.

Huh, saya mulai panik. Pikiran seram sudah menghantui saya. Meneror saya, karena saya makin ingat kalau malam ini adalah Malam 1 Suro. Karena itu saya bergegas merapikan berkas-berkas. Merapihkan meja. Saya tidak mau ada di jalanan setelah jam 12 malam.

(bersambung lagi)

(3) Tambah Ketakutan di Malam 1 Suro

Catatan : Telah ditayangkan di Kompasiana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s