Hari Genee Ngga Punya Ponsel?

“Titip dong, beli’in hape ESIA buat Tia.”

“Hape? Duitnya?”

“Nih, 250ribu.”

Hm. Cukup kali, ya? Nyari di mana, ya? 250ribu?

Begitu tuh yang muncul di pikiran saya. Ponsel CDMA sih memang banyak yang murah.  Ponsel seharga Rp 250.000,- juga cukup untuk ngobrol dan kirim-kirim pesan.

Mainan anak-anak sekarang. Dari google.

Cuma yang jadi masalah adalah :

1. Tia adalah anak umur 8 tahun.  Yang menitipkan uang adalah neneknya, yang hidup apa adanya, yang mau membahagiakan cucunya itu. Mereka adalah tetangga saya.

2. Bila ternyata harga ponselnya mahal, karena memperhatikan kualitas ponsel, bisa saja saya tambahkan uang untuk membeli ponsel dengan kualitas layak untuk mereka, terutama ketahanan, baik ketahanan baterai ataupun ketahanan guncangan (jatuh).

3. Neneknya cukup iba melihat kakak-kakaknya dan teman-teman seusianya sudah asyik berponsel. Obrolan dan permainan anak-anak sudah berbeda. Apalagi saat libur seperti sekarang ini, komunikasi dengan teman-temannya harus terus dilakukan. Komunikasi yang paling mudah adalah melalui ponsel. Nah, ngga enak juga kan kalo melihat si Tia yang cuma bengong aja ngeliat teman-temannya asyik berponsel.

4. Belum lagi dengan fasilitas ponsel yang canggih. Teman-temannya sudah bermain dengan aplikasi  game dan foto-foto, bahkan video. Mereka saling tukar menukar foto. Wah berarti ponsel untuk Tia harus yang memiliki kamera, tentunya harga ponselnya pasti akan lebih mahal.

5. Teman-temannya sudah punya akun facebook. Tia juga sudah punya. Obrolan mereka sering menyangkut tentang facebook. Apalagi dengan kemudahan mengaksesnya melalui ponsel. Karena tidak punya ponsel ber-facebook, Tia lah yang selalu ketinggalan obrolan.

6. Kalau harus punya ponsel yang bisa mengakses facebook, berarti harus siap mengeluarkan biaya akses internet. Okelah saya tambahkan uang untuk membeli ponsel ber-facebook. Tapi, bagaimana dengan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk internet setelah ponsel itu dimainkan Tia? Cukupkah uang jajannya untuk membiayai hidupnya di dunia maya?

Hahaha. Anak-anak jam sekarang sudah canggih. Sudah bermain dengan tehnologi. Tidak saja hanya mengenal, tapi mereka sudah bergelut dan terjun di dunia maya.

Blackberry untuk Anak. Dari Google.

2 bulan lalu saya mampir ke warnet milik teman. Dia membuka warnet di kampungnya. Saya terkesima melihat banyaknya pengunjung di warnetnya. Walaupun cuma 8 meja, namun tidak pernah ada meja kosong. Semula teman saya hanya menargetkan buka jam 10 pagi hingga 10 malam. Namun karena penuhnya penyewa, maka hingga kini, dia membuka 7 x 24 jam seminggu, nonstop.

Tapi teman saya malah miris melihat kondisi warnetnya yang laku itu. Bukannya menolak rejeki atau cape mengurusi warnet yang nonstop, tapi dia merasa tidak enak dengan penyewanya, karena penyewanya hampir semuanya anak-anak. Remaja yang menyewa harus mengantri, bahkan harus memilih jam dinihari.  Anak-anak yang menyewa bermain facebook, bermain game, dan lain-lain. Dan dalam 1 meja bukan hanya dimainkan oleh 1 anak, melainkan berdua atau bertiga. Bahkan anak-anak lain yang mengantri, sudah berdiri di belakang mereka.

Teman saya merasa tidak enak bukan karena modal yang kembali bisa datang dengan cepat, tapi karena memikirkan pengeluaran anak-anak tersebut. Hampir setiap hari sepulang sekolah, anak-anak berkunjung ke warnetnya. Pengeluarannya untuk bermain internet saja bisa mencapai Rp 10.000,-. Sementara, teman saya mengerti betul kalau kondisi orang tua mereka tidaklah semewah dengan gaya hidup anak-anak. Untuk jajan internet saja bisa Rp 10.000,- perhari. Berapa uang yang harus dikeluarkan oleh orang tua mereka jika 2 atau 3 anaknya bermain warnet terus setiap hari?

Untungnya, teman saya sudah mengantisipasi dengan membuatkan paket murah agar para orang tua di kampungnya bisa memaklumi kondisi meningkatnya uang jajan anak-anak mereka, sehingga anak-anak bisa mengatur uang jajan dan waktu untuk bermain internet.

Sekarang tinggal saya yang bingung, apakah saya harus meladeni anak-anak untuk bermain teknologi yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit? Kalau saya belikan ponsel yang punya banyak fasilitas, apakah anak-anak akan sanggup mengatur uang jajan mereka? Apakah nantinya akan memberatkan orang tua mereka, khususnya neneknya Tia? Kalau saya hanya belikan ponsel yang seadanya, apakah Tia sanggup menguasai kondisi ponselnya dan tingkatan sosialnya? Apakah saya harus mengatur tata cara bermain dan berinteraksi di lingkungan teman-temannya? Apakah saya harus menahan mereka untuk tidak terlalu terjun di dunia modern mereka?

Halah… jadi pusing.  Beli, ngga, ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s