Pocong Itu Berdiri di Kamar Tamu…

https://i2.wp.com/z.about.com/d/paranormal/1/0/T/A/haunted_house_lg.jpg
http://z.about.com/d/paranormal/1/0/T/A/haunted_house_lg.jpg

Malam sudah sepi … Sunyi. Entah kenapa kok tumben sepi banget …. Yang kudengar hanya suara kipas, yang tidak pernah lelah berputar.

Sepi.

Biasanya di ujung gang terdengar orang-orang tua ngobrol. Berceloteh. Pasti ada saja yang mereka bicarakan. Tapi sekarang sepi.

Ah, masa bodoh. Aku masih asyik membaca artikel-artikel di Kompasiana.     Sendirian.     Temanku hanya rokok, kopi, teh dan komputer. Siklus tidurku juga sudah aneh. Sekarang setelah subuh baru aku pergi tidur.

Artikel yang kubaca saat ini mengasyikkan. Seru. Komentar pun bersahut-sahutan. Ramai. Berbeda dengan suasana di kamarku.    Sepi.    Tidak terdengar suara apapun.   Aku juga tidak mengaktifkan win-amp, untuk menemani kesepianku…    Kesendirianku…     Entah kenapa aku sangat menikmati kesendirian…    Nyaman sekali kesunyian ini.

Tiba-tiba, mejaku bergetar kecil ….    Aku kaget…    Eh, kenapa ini?

Kulihat ke kiri. Huh, ternyata hp-ku bergetar. Ada sms. Kubaca.   Aku tersenyum, karena istriku menyapa “Sedang apa, Sayang?” … Hehehe, istriku sedang menginap di rumahnya, menemani ibunya yang sedang sendirian. Lalu kubalas sms.

Selesai itu, aku kembali menatap monitor. Suara kipas masih terdengar ….   Suara lain tidak ada.   Sepi….     Sunyi ….

Aku masih asyik membaca ….

Wuzzz…..

Aku diam.

Aku yakin ada yang berkelebat di pintu kamar. Hitam bergerak cepat. Kepalaku tetap mengarah ke monitor, tapi mataku melirik ke kanan, ke pintu kamar.  Aku yakin, tapi aku berusaha berpikir lain, mungkin mataku yang sudah lelah.

Sepi.

Tidak ada apa-apa lagi….   Aku melanjutkan membaca walau konsentrasiku sudah agak terganggu.

Sepi….

Aku berusaha melanjutkan membaca. Aku berusaha konsentrasi …    Tapi entah kenapa, hawa menjadi dingin ….   Huh….

Wuzzzzz…

Kali ini aku yakin kalau ada yang berkelebat di pintu kamar …. Aku yakin karena tadi aku sempat mengarahkan pandanganku sekilas ke pintu. ….   Sekilas…  Ini adalah kali kedua ada sosok bergerak cepat. Dan aku yakin kalau sekarang bukanlah mataku yang lelah.

Tapi aku mencoba tenang.  Aku langsung kembali memandang monitor.  Tapi aku sekarang gelisah.

Bulu kuduk berdiri.   Aku mulai merasa ada yang menggangguku ….   Aku tidak berani menengok ke kiri ataupun ke kanan. Wajahku kaku. Tanganku juga kaku. Perasaanku bercampur aduk …  Ini kah namanya takut …

Aku mulai terganggu.  Udara bertambah dingin ….  Aku masih terdiam …

Aku memberanikan diri menengok ke pintu …   Gelap.   Ruang tamu memang sengaja dipadamkan lampunya.     Sepi.     Hanya suara kipas yang berbunyi.

Aku mulai terganggu. Aku mencoba berpikir jernih…    Aku tidak boleh takut di rumah sendiri. Aku tidak boleh takut di kamar sendiri. Aku ingat kalau aku selalu menegur istriku kalau dia ketakutan karena tanpa sengaja ditampakkan sosok gaib. Aku selalu bilang, “Marahin aja, Bu. Jangan dikuasai mereka.” …. Dan itu ampuh, istriku kini sudah menjadi pemberani.

Aku melihat ke arah pintu.   Gelap.   Huh, aku tidak boleh takut.

Aku bergerak. Menuju pintu. Bulu kuduk bertambah aneh…    Hawa badan bertambah aneh.  Aku merinding.

Tapi aku harus melawannya.   Aku kuatkan langkah …     Menuju pintu.

Suara pintu tua muncul saat kugerakkan pintu kamarku.    Kulihat ruang tamu.     Sepi.    Gelap.

Aku bertambah merinding.  Aku takut… dan terdiam.   Tapi aku tetap dengan keyakinan kalau aku tidak boleh takut.   Karena itu aku maju menuju kursi tamu.

Saat aku hampir mendekat kursi tamu, aku seperti melihat sesuatu di samping kiri.    Wuzzzzz….    Hitam …    pekat ….   Entah kenapa aku tidak langsung menyalakan lampu ruang tamu. Entah kenapa aku malah diam berdiri… berusaha menengok ke kiri dan ke kanan. Berusaha memberanikan diri. Aku masih berdiri di dekat kursi tamu. Aku yakin kalau saat itu aku takut…. Suasana gelap, menambah ketakutanku…   Aku bertambah merinding….

DAN ….

Astagfirullah ….

Ada pocong berdiri di ujung kursi tamu ….

Aku terdiam.    Bengong.    Kaku.

Sosoknya jelas sekali di kegelapan. ….  Wajahnya tidak terlihat ….   Samar ….   Pocong itu berdiri kaku….

Aku merinding.     Sangat.      Sepertinya kami bertatapan.

Aku masih terdiam melihat pocong itu … Entah berapa lama kami saling bertatapan…. saling diam.

Saat aku mencoba memulia gerakan dengan melirikan mataku ke kanan, aku melihat pocong itu bergerak perlahan … Kepala dan badannya digerakkan ke depan … Seperti mau menunduk….

Aku hanya terdiam melihat gerakkannya … Entah kenapa aku hanya diam.

Dengan perlahan pocong itu tegak kembali. Lalu bergerak menunduk …. Tegak kembali … Begitu terus…  Diulang-ulang.

Aku diam … Tidak ada suara apapun.  Pikiranku mati…. Hanya perasaan seram menyelimutiku. …  Aneh… aku tidak berusaha teriak.  Aku tidak berusaha bergerak lari. Aku tidak berusaha bereaksi…. Aku hanya diam.   Kaku … dan masih melihat pocong itu.

Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat kembali teguranku untuk istriku jikalau dia ketakutan.

Aku masih memandang pocong itu… Dia masih bergerak perlahan.

Aku menguatkan diri. “Oi, … ” suaraku keluar pelan…   Serak ….

Pocong itu diam. Seolah bereaksi atas teguranku ….

Aku menambah kekuatanku … “Jangan ganggu, ya.” … Suaraku masih terdengar pelan.

Pocong itu masih diam berdiri di pojok….

Aku pun masih diam berdiri menghadapnya … Menatapnya …

Tiba-tiba …. wuzzzz …… dia menghilang ….

Aku masih diam berdiri …Menatap kosong pojok ruang tamu yang sudah kosong.

Aku menghela nafas.  Huh …  Sadar karena pocong itu sudah tidak ada, aku bergerak pelan…   Melihat ke sekeliling kamar tamu.

Masih gelap.   Sepi…    Tidak ada suara apapun.

Aku kembali ke kamar. Aku duduk. Menatap monitor…   Tapi pikiranku tidak jelas. Tidak fokus. Aku sadar bahwa aku telah diberi satu kejadian.

Aku berusaha keras untuk membaca artikel di depanku. Tapi pikiranku masih tidak fokus. Wah, ini sudah kacau. Mungkin aku harus tidur. Mungkin penampakan tadi adalah karena mataku sudah lelah. Tapi tidak, aku yakin tadi aku bertemu dengan pocong.

Komputer kumatikan… Aku bergerak ke tempat tidur di belakangku.

Pelan aku selimuti badanku. Aku masih diam menerawang menunggu kantuk … Masih memikirkan kejadian tadi …. Masih terasa sekali bentuk sosok putih itu….

Sampai azan subuh terdengar, aku belum tidur …. Aku masih menerawang… Sambil menekuk badanku dalam selimut. Astaga, aku masih memikirkan pocong itu.

catatan :  Telah ditayangkan di Kompasiana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s