Malam itu …

Merebahkan badan di samping anakku yang tertidur, sambil memandang wajahnya yang lucu membuatku mengantuk. Suara samar film mandarin dari TV tidak menggoda mataku untuk menontonnya. Namun sama-samar aku tetap mendengar suara angin memukul selusin gantungan angin terbuat dari bambu dan metal. Tidak riuh, tapi berirama. Menghanyutkan.

Lalu samar kurasakan kasur yang kugelar di lantai atas itu bergerak. Samar pula aku lihat anakku berjalan melompatiku. Rasanya ia sedang mencari remote decoder untuk mengganti channel TV. Seperti biasa yang dilakukannya setiap dia bangun tidur. Karena masih berat untuk membuka mata, jadi kubiarkan dia berjalan.

Namun aku agak terganggu saat ia mulai melompat dari meja kecilnya ke kasur, ke sampingku. Aku diamkan saat dia naik kembali ke meja. Tapi aku tersenyum karena mengetahui ia bermain di saat malam masih menunjukkan kepekatannya.

Tiba-tiba ia melompat persis ke sampingku. Perlahan aku membuka mata, melihat wajah polosnya memandang kosong ke luar rumah yang ditembus oleh dinding kaca besar. Dia terdiam.

“Ngga ngantuk, sayang?”

Dia masih terdiam sambil tetap memandang ke luar rumah. Sesaat kemudian dia menatapku. Wajahnya tegang. Aku merasakan perubahan raut muka di wajahnya. Aneh.

Walau masih berat membuka mataku, aku bertanya lagi, “Kenapa, sayang?”.  Dia diam. Tidak menjawab. Namun kudengar suara lirihnya, terasa sekali berat untuk diucapkannya.

“Beh, itu siapa?”

Aku tersentak, menatapnya aneh.  Dia masih memandang keluar. Sekejap aku langsung bergerak membalikkan badanku dalam posisi tengkurap untuk mengikuti arah pandangnya ke luar rumah.  Tidak ada siapapun. Tidak ada apapun. Hanya langit gelap.

Aku membalikkan lagi badanku untuk memandang anakku. “Siapa?”.  Aku kira ia menjawab pertanyaanku itu. Tapi ternyata tidak. Ia mulai mengkerutkan badannya. Wajahnya bertambah tegang. Karena itu aku kembali membalikkan badanku untuk melihat keluar rumah.

Astaga.

Kembali aku tersentak diam. Pintu rumah pun sudah terbuka lebar, hingga terlihat jelas sekali di sana, ada bocah, yang diam berdiri di samping pagar teras lantai atas, menatap langit. Dia mirip sekali dengan anakku. Dan pakaian yang dikenakannya persis sama seperti yang anakku pakai sekarang.

Aku berbalik memandang anakku. Dia masih terdiam kaku melihat keluar rumah. Ini membuatku melihat kembali sosok yang ada di luar rumah.

Angin dingin menyergapku. Bulu kudukku berdiri. Hening mencekam menyelimuti kami. Rasa takut perlahan membungkus kami. Menggerogoti kami dengan memekakkan suara malam dicampur suara bambu dan metal yang beradu karena ditiup angin.

Kami hanya diam. Diam tanpa bisa menanggapi suasana aneh itu. Perlahan aku berusaha memberanikan diri dengan menggerakkan mulutku untuk menegurnya. Tapi entah kenapa, terasa berat sekali untuk menggerakkan rahang mulut, untuk mengeluarkan suara.

Sampai saat aku sudah mulai bisa menggerakkan mulutku, tiba-tiba sosok anak kecil itu menengok. Menatapku, lurus ke mataku. Aku hanya bisa diam tanpa bisa berkata apapun.

Dan kini ia bergerak. Masuk ke dalam rumah. Aku makin tercekam, berusaha menggerakkan badanku, berusaha keras menggerakkan mulutku untuk mencoba menghardik bocah itu. Namun entah kenapa rasanya aku seperti dicekik. Hanya suara geraman serak yang keluar dari rahangku. “Aa … aakhh … aaakkhh …”

Bocah itu terus bergerak, menutup pintu. Mengunci pintu. Aku terus berusaha mengeluarkan suara, namun cekikan itu terus menekanku.  Dia berjalan ke arahku, mendekatiku, naik ke kasur, dan mengambil remote decoder. Tanpa bicara. Tanpa suara. Dan aku makin diterkam ketakutan yang sangat, namun terus berusaha melepaskan jeratan ketakutan itu sambil menatap tajam bocah itu.

Tiba-tiba dia melihatku. Memandangku dengan sayu. Dan … “Beh …”

Aku langsung diam. Aku memandang lurus ke arah matanya. Heran karena dia menyebut namaku. Aku terus memandangnya.

Tiba-tiba aku ingat anakku. Entah bagaimana dia bersembunyi di belakangku, karena melihat bocah itu menghampiri kami. Aku cepat menengok ke belakang.

Namun tidak ada siapapun di sana.

.

————————————————

.

Aku hanya terdiam sambil menonton TV bersama dia di sampingku. Pikiranku berkecamuk. Terbersit pikiran, “Apakah dia menegurku? Menyapaku?”

Tiba-tiba kerinduan akan anak sulungku menghampiriku.

“Abang …”

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s