Flash Fiction : Kopi Pahit

“Bapak, tebu-tebu ini kapan panennya?”

“Tidak lama lagi.”

“Asyik. Nanti aku boleh ikut manen, ya, Pak.”

“Hehehe. Boleh.”

Si anak tersenyum ceria. Pasti seru kegiatan memanen tebu bersama teman-temannya, yang selalu kagum dengan cerita tentang ladang tebu itu. Selama ini si anak selalu membanggakan ladang tebu milik bapaknya. “Nanti akan kubangun pabrik gula. Bapakku bilang tebu itu penting untuk hidup. Biar ada rasa manisnya.”

Si Bapak menyeruput kopi. Si anak memperhatikan.

“Bapak, kenapa sih? Masa Bapak punya ladang tebu tapi minumnya kopi pahit sih?”

Si Bapak tersenyum. Masih terngiang di pikiran Bapak bagaimana kepala desanya tertunduk lesu memberikan kabar ke Bapak kalau minggu ini adalah panen tebu  terakhir. “Ladang ini harus saya jual,  katanya akan menjadi waduk,” kata kepala desa sebagai pemilik ladang tebu itu.

*

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Advertisements

Flash Fiction : Di Lampu Merah

Sambil bergegas ke jendela mobil belakang, dia menyubit pantat balita di gendongannya agar menangis lebih keras. Dia semakin kurus, kucel dan legam. Berbeda 180% dengan saat dia jadi biduan di kampungku. Berbeda setelah bandot tua memboyongnya ke kota. Berbeda setelah dia melempar undangan pernikahanku dengannya.

Aku hanya bisa mengintipnya dari kaca spion. Istriku sibuk menyiapkan paspor dan tiket pesawat. Kedua anakku masih asyik menulis status di Blackberrynya.

Hujan mulai turun. Fajar mulai hadir. Lampu merah sudah berganti hijau. Klakson cacimaki mulai riuh.

.

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Flash Fiction : Subuh Itu…

Lelaki itu tersungkur di jalan raya. Badannya berkejut-kejut, busa putih keluar dari mulutnya. Matanya kosong. Selembar slip gaji terbang dari tangannya. Di belakangnya, dengusan bis malam tidak bisa menghindar.

Takbir Idul Fitri terus menggema.

.

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Serba Gratis di iB Kompasiana Blogshop

Walaupun banyak acara di Jakarta pada hari Minggu, 25 Juli 2010, di antaranya Funbike Old City Tour (Galeri Nasional Indonesia), Funbike Gowes Bareng Kompas Gramedia, dan Car Free Day Sudirman Thamrin, saya tetap memilih mengikuti acara iB Kompasiana Blogshop. Dibekali dengan laptop pinjaman dan kamera handycam tua (yang hanya digunakan untuk foto-foto kualitas 4 Megapixel), saya berangkat menuju Gedung JI Expo di Kemayoran. Acara blogshop ini diadakan salah satunya untuk mendukung Indonesia International Motor Show 2010.

Ternyata peserta yang berjumlah lebih dari seratus (apa duaratus, ya?) kompasianer itu dijamu gratis oleh Kompasiana. Pertama, setelah absen ulang sebelum acara dimulai, dapat sarapan pagi gratis. Wah, kebetulan perut belum diisi makanan pagi. Setelah itu, bersiaplah saya di meja panjang bersama artis-artis Kompasiana, Hadi Samsul, Yayat, Nathalia dan Zulfikar Akbar.

Continue reading “Serba Gratis di iB Kompasiana Blogshop”

Flash Fiction : Dia Anakku

Harusnya dulu tidak kubiarkan dia pergi dengan penipu itu, sehingga tidak akan kulihat senyum dan tatapan matanya, yang kini terpancar pada seorang gadis yang melambai genit untuk pamit pulang. Mirip sekali. Dan kini aku mual tak tertahankan, karena tadi telah membayarnya untuk satu kenikmatan.

Dia menyebut namanya. Namaku ada di nama belakangnya.

Pijar bohlam motel berpendar. Suara wanita-wanita nakal makin riuh menggoda pejalan kaki, berlomba dengan alunan musik dan dentingan botol bir.

.

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Flash Fiction : Siang itu…

Suasana makin panas. Bau busuk sampah ikut bergumul di kerumunan orang yang terus bertambah, menutupi gubuk reyot seluas 2 kali peti mayat. Lalu lintas yang macet di sekitar pasar modern itu menjadi makin tidak terkendali. Puluhan pengendara motor berhenti untuk sekedar melongok. Bahkan pengemudi angkutan umum juga meninggalkan begitu saja kendaraannya  dengan tidak memperdulikan gumaman kesal penumpangnya.

Lelaki itu tidak memperdulikan kerumunan. Ia sibuk membersihkan cairan lendir campur darah yang membanjiri lantai gubuknya. Dengan tangan kanannya, ia mengelap lantai dengan kertas-kertas koran yang tiap hari makin menumpuk karena tidak laku, padahal koran-koran itu terbitan hari itu. Sementara tangan kirinya memeluk bayi yang masih merah bersimbah cairan. Di hadapannya, istrinya masih terbaring mengerang.

“Kenapa ngga dibawa ke bidan sih?”

“Pinjami kain. Tolong pinjami dia kain.”

“Astagfirullah”

“Ada yang punya gunting, ngga? Woi, ada yang punya gunting, ngga?”

Celoteh-celoteh terus bertebaran. Sementara kerumunan makin padat. Lelaki itu tidak bereaksi atas celotehan yang tidak jelas asalnya.

Tiba-tiba lelaki itu menoleh ke arah kerumunan. Didengarnya ada yang berteriak-teriak sesuatu. Dia memicingkan mata. Terlihat aura marah di sinar matanya.

“Ada tibum! Awas, ada penggusuran! Ada buldosernya!”

Lelaki itu menatap bayi di tangan kirinya. Lalu menatap wajah istrinya yang makin pucat. Dan kilatan lampu blitz tiba-tiba menerpanya.

“Pak, bayinya mau diberi nama siapa?”

Si lelaki melihat ke arah kerumunan.

“Suharto”, lirihnya.

.

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Minggu pagi di Rasuna Said menuju Monas

Minggu pagi, 11 Juli 2010, walau tinggal di sekitar Setiabudi – Kuningan, baru pertama kali ini saya susuri acara Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day) Jakarta Selatan yang dipusatkan di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Kuningan.  Penutupan jalan dimulai sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.  Ternyata suasana keramaiannya berbeda dengan acara Car Free Day (CFD) di sepanjang Sudirman Thamrin.

CFD Sudirman Thamrin selalu ramai dengan orang-orang yang berolahraga, baik bersepeda maupun jogging, ataupun sekedar berrekreasi bermain di sepanjang jalan. Stand-stand pameran juga banyak berdiri sepanjang jalan, dengan diisi panggung kecil yang dimeriahkan dengan acara musik. Jumlah pengguna sepeda biasanya meningkat hingga ribuan, apalagi kalau dibarengi dengan acara funbike. Umumnya pengguna sepeda berkumpul di Bundaran HI.

Continue reading “Minggu pagi di Rasuna Said menuju Monas”