Flash Fiction : Di Lampu Merah

Sambil bergegas ke jendela mobil belakang, dia menyubit pantat balita di gendongannya agar menangis lebih keras. Dia semakin kurus, kucel dan legam. Berbeda 180% dengan saat dia jadi biduan di kampungku. Berbeda setelah bandot tua memboyongnya ke kota. Berbeda setelah dia melempar undangan pernikahanku dengannya.

Aku hanya bisa mengintipnya dari kaca spion. Istriku sibuk menyiapkan paspor dan tiket pesawat. Kedua anakku masih asyik menulis status di Blackberrynya.

Hujan mulai turun. Fajar mulai hadir. Lampu merah sudah berganti hijau. Klakson cacimaki mulai riuh.

.

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Advertisements

2 thoughts on “Flash Fiction : Di Lampu Merah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s