Flash Fiction : Dia Anakku

Harusnya dulu tidak kubiarkan dia pergi dengan penipu itu, sehingga tidak akan kulihat senyum dan tatapan matanya, yang kini terpancar pada seorang gadis yang melambai genit untuk pamit pulang. Mirip sekali. Dan kini aku mual tak tertahankan, karena tadi telah membayarnya untuk satu kenikmatan.

Dia menyebut namanya. Namaku ada di nama belakangnya.

Pijar bohlam motel berpendar. Suara wanita-wanita nakal makin riuh menggoda pejalan kaki, berlomba dengan alunan musik dan dentingan botol bir.

.

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Advertisements

2 thoughts on “Flash Fiction : Dia Anakku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s