Flash Fiction : Kopi Pahit

“Bapak, tebu-tebu ini kapan panennya?”

“Tidak lama lagi.”

“Asyik. Nanti aku boleh ikut manen, ya, Pak.”

“Hehehe. Boleh.”

Si anak tersenyum ceria. Pasti seru kegiatan memanen tebu bersama teman-temannya, yang selalu kagum dengan cerita tentang ladang tebu itu. Selama ini si anak selalu membanggakan ladang tebu milik bapaknya. “Nanti akan kubangun pabrik gula. Bapakku bilang tebu itu penting untuk hidup. Biar ada rasa manisnya.”

Si Bapak menyeruput kopi. Si anak memperhatikan.

“Bapak, kenapa sih? Masa Bapak punya ladang tebu tapi minumnya kopi pahit sih?”

Si Bapak tersenyum. Masih terngiang di pikiran Bapak bagaimana kepala desanya tertunduk lesu memberikan kabar ke Bapak kalau minggu ini adalah panen tebu  terakhir. “Ladang ini harus saya jual,  katanya akan menjadi waduk,” kata kepala desa sebagai pemilik ladang tebu itu.

*

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Advertisements

2 thoughts on “Flash Fiction : Kopi Pahit”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s