Ampun Mbok! Ada bom!

Karena telah dikerjai oleh 3 pandawa badung, yaitu Gugun, Sigit dan Jenni, maka bersekongkollah 2 ibu guru itu, yaitu Ibu Gendis dan Ibu Meisha Shasha. Kedua ibu ini akan balik mengerjai anak-anak nakal itu. Disusunlah rencana jail.

Gugun, Sigit dan Jenni berlarian ke luar ruang rapat sambil tertawa. Mereka menuju musholla SD Canting  untuk mengabarkan ke Hendra dan Ngashim atas cerita kesuksesan mengerjai ibu-ibu guru yang galak. Akhirnya mereka berlima tertawa terbahak-bahak, guling-gulingan di musholla. Sampai akhirnya mereka cape sendiri, dan bergeletakanlah mereka tertidur di musholla. Suara dengkur pun bersahut-sahutan. Tau sendiri deh siapa yang paling keras suara dengkurnya. Tak lain tak bukan pasti Hendra.

“Grooook! Grooook! Pyuuuhhh!” begitulah suara dengkuran mereka.

Karena suara dengkur yang bersahut-sahutan, mereka juga tidak sadar kalau Ibu Gendis dan Ibu Meisha Shasha datang dengan sembunyi-sembunyi, membawa panci dan ember. Ibu Gendis pun sudah siap dengan panci dan pemukul bedug musholla, berdiri di samping kuping Gugun dan Hendra. Sementara Ibu Meisha Shasha berdiri di tengah-tengah Jenni dan Sigit.

Ngashim tidur dengan posisi menutup diri, menelungkup seperti kucing, dan sepertinya Ngashim akan selamat dari kejutan suara panci dan ember, karena ternyata Ngashim tidur sambil menutup hidung dan telinga, serta tanpa sadar wajahnya berhadapan dengan telapak kaki Jenni yang masih dengan sopannya menggunakan kaos kaki yang sudah berwarna kecoklat-coklatan itu.

Mulailah Ibu-ibu mengagetkan pandawa yang tertidur, dengan memukul panci dan ember dengan kerasnya.

GROMPYAANNKKKKK !!! …  JEDERRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!

Gugun yang kaget, langsung lompat memeluk Hendra, sambil berteriak latah “Eh Copot Copot Copooootttttt!!!”. Hendra pun yang ikut kaget karena suara dan pelukan Gugun, juga teriak, “Tolooooooooong .. Lontooooooooooong!!!!!!!”

Sementara Sigit dan Jenni, si kembar tak karuan ini malah lompat-lompat berkeliling sambil teriak, “Ada bom! Terorisssssssssss!!!”

Lain lagi Ngashim yang terkenal pula dengan jailnya itu. Dia malah menutup kepala sambil berteriak kaget, “Ampun Mbooooookkk!!! Ampun Pa’eeeeeeeeeeeeee!!!”

Ibu Gendis dan Ibu Meisha Shasha tertawa dengan senangnya, “Hahahahahaha … Ternyata kalian semua latah! Hahahahaha … Impas yo Ndul!”

Tersadarlah para pandawa ini karena ternyata mereka telah dibalas oleh guru mereka. Mereka berlima saling bertatapan, antara kesal, marah dan sebal. Namun bukannya dumelan yang keluar, mereka malah tertawa mengikik. Kedua ibu guru pun jadi bingung.

Gendis : GUGUUUUNN, kenapa malah cekikikan?

Meisha Shasha : Heh, kalian malah ngeledek, ya?!

Gugun : Lha, ngga bu. Kami cuma senang aja, ternyata ibu sama gilanya dengan kami.

Pandawa lain pun tertawa cekikikan lagi. Kedua ibu guru menjadi bertambah sebal dengan situasi ini.

Gendis : Sudah, diam! Kalian cepat ke kelas. Babeh Helmi sudah menunggu di sana. Cepat!

Berlarianlah para pandawa menuju kelas.

(Bersambung ke sini “Walau Puasa, Kami Sudah Siap Tempur”)

————————————

*)baca kisah lainnya disini ” balada chentingsari”