“Saya Ditegur,” kata Dahlan Iskan

 

“Saya ditegur,” kata Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI di Bundaran HI. “Saya pakai sepatu hasil jerih payah saya sendiri. Dulu semasa kecil saya kemana-mana tidak pakai sepatu. Sekarang sudah bisa beli sepatu, apalagi karena sekarang sudah jadi pejabat, saya pakai sepatu yang bagus. Sepatu buatan Amerika,” ujarnya.

“Tapi, dengan buku yang berjudul “Sepatu Dahlan” ini, saya merasa ditegur. Karena itu saya akan buang sepatu ini, dan diganti dengan sepatu buatan dalam negeri.” Itulah yang dikatakan Dahlan Iskan di sela-sela peluncuran novel “Sepatu Dahlan” Minggu pagi ini, 27 Mei 2012. Acara ini diselenggarakan di sela-sela Car Free Day, bertempat di samping Grand Indonesia.

13380910143022855
Sepatu yang siap dibuang

Setelah itu, Pak Dahlan Iskan mencopot sepatu abu-abunya, dan melemparkan sepasang sepatunya itu ke penonton. Kemudian ia memakai sepatu hitam, dengan sebelumnya menunjukkan ke hadirin kalau, “Ini buatan lokal. Mereknya DI-19. Kenapa 19? Itu adalah landasan kita sebelum beraktifitas, yaitu kalimat basmalah yang terdiri dari 19 huruf. Ucapkan basmalah sebelum melangkah.” Huruf DI sendiri adalah Demi Indonesia. (Bukan Dahlan Iskan 2019, ya, Pak? .. 😀)

Continue reading ““Saya Ditegur,” kata Dahlan Iskan”

Senja dan Kata-kata

.

Sesenja itu, lembut angin memainkan anak-anak rambutmu yang duduk di sampingku. Seperti biasa, kamu memeluk lututmu, menaruh dagu indahmu, menatap cekung air danau hening di depanmu. Barisan cemara yang tertiup merunduk pun seakan memelukmu, berjejer bersama dalam lamunmu.

Di sini, di ujung dermaga, aku menemanimu dengan kadang melemparkan kerikil meriakkan air, menyentuh sunyi yang masih membias dari manis sendunya wajahmu. Mata kanak-kanakmu menerawang ke hamparan selendang panjang jingga yang melayang di atas bukit untuk sebentar lagi sembunyi.

“Mengapa puisi begitu mudah tercipta kala senja begini?” gumammu. Kutoleh kamu yang enggan membalas.

“Mengapa puisi seringkali berlatar senja?” gumammu lagi.

“Senja itu jingga,” kataku sekenanya. Kamu melirik, dan aku tak pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Kuberanikan diri menatap matamu. Ada degup di jantungku, meletup membeku. Ah, tak bisa kugambarkan betapa indahnya binar matamu. Inilah yang selalu membuatku merindu. Tapi …

Kamu kembali memeluk lututmu.

“Kau sedang mencipta puisi?” tanyaku memecah keheningan.

Kini kamu menoleh. Bayanganku terpantul jelas di mata jernihmu.

Continue reading “Senja dan Kata-kata”