Senja dan Kata-kata

.

Sesenja itu, lembut angin memainkan anak-anak rambutmu yang duduk di sampingku. Seperti biasa, kamu memeluk lututmu, menaruh dagu indahmu, menatap cekung air danau hening di depanmu. Barisan cemara yang tertiup merunduk pun seakan memelukmu, berjejer bersama dalam lamunmu.

Di sini, di ujung dermaga, aku menemanimu dengan kadang melemparkan kerikil meriakkan air, menyentuh sunyi yang masih membias dari manis sendunya wajahmu. Mata kanak-kanakmu menerawang ke hamparan selendang panjang jingga yang melayang di atas bukit untuk sebentar lagi sembunyi.

“Mengapa puisi begitu mudah tercipta kala senja begini?” gumammu. Kutoleh kamu yang enggan membalas.

“Mengapa puisi seringkali berlatar senja?” gumammu lagi.

“Senja itu jingga,” kataku sekenanya. Kamu melirik, dan aku tak pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Kuberanikan diri menatap matamu. Ada degup di jantungku, meletup membeku. Ah, tak bisa kugambarkan betapa indahnya binar matamu. Inilah yang selalu membuatku merindu. Tapi …

Kamu kembali memeluk lututmu.

“Kau sedang mencipta puisi?” tanyaku memecah keheningan.

Kini kamu menoleh. Bayanganku terpantul jelas di mata jernihmu.

“Aku tak punya kata-kata untuk kubariskan menjadi puisi.” Pandanganmu hampa, namun sedetik kemudian berbinar. “Pancing aku dengan satu kata,” pintamu.

Hasratku pun naik diikuti nyanyian cicit burung-burung di senja yang mulai berganti malam. Aku berdiri memandang langit. Kamu memperhatikanku. Kujulurkan senyum dan tangan kananku padamu. Kamu menyambutnya. Hangat, berdua memagut senja.

Entah apa, bagai ada mantra jawab dari permintaanmu itu, sekejap kata-kata berhamburan dari mana-mana. Dari balik bukit, pepohonan, muncul dari dalam danau, dari langit, dari depan, samping, belakang dan atas. Aku takjub, begitupun dirimu. Ya, cakrawala menjawab harapanmu. Genggaman tanganmu makin mengerat. Kutengok senyum sumringah darimu seakan membalas sapaan cakrawala.

Lalu kuraih satu kata dari danau dan kuberikan padamu.

Rindu,” ejamu saat kubuka tanganku. Dahimu mengerinyit “Aku tak suka kata ini.”

“Mengapa? Bukankah senja selalu terikat dengan rindu?” Dan kamu menggeleng “Aku sedang tidak rindu.”

Kuraih kata lain. Kali ini yang muncul dari balik bukit itu. Aku perhatikan kata itu. Aku meragu, haruskah kuserahkan kata ini padamu? Namun …

Lirih kuucapkan “Cinta.” Kamu terdiam sejenak. Ah, tahukah kamu reaksi apa yang kuharap darimu dengan kata itu? Kuharap kamu tersenyum, manis, dan memberikannya hanya untukku.

Tapi kamu menggeleng perlahan. “Aku sedang bosan dengan kata itu,” tukasmu tak acuh. Aku jadi terdiam. Serba salah. Namun aku pun langsung menutupinya dengan “Agak gombal, ya?” Kamu tersenyum. Hei, tahukah kamu, aku selalu goyah dengan senyummu itu.

Kini kamu menantiku mengambilkan sepotong kata lainnya. Kuraih dari langit yang telah memudar ronanya. Semoga kata yang manis yang kudapat karena makin banyak harapku dari kata itu.

Mimpi,” sebutku. Kamu tersenyum. Manis sekali hingga aku mengambilkan lagi kata dari langit untukmu.

Imaji. Begitu kata itu terbaca. Senyummu makin mengembang. Lalu kata lainnya lagi. Masih dari langit yang kini semakin kelam. Purnama tengah menjadi ratu di antara gemintang. Gemawan menjadi permadaninya. Sesaat aku dan kamu makin takjub akan keindahan peri-peri angkasa itu.

Harapan. Kali ini kamu tidak tersenyum, tapi tertawa. Bahagia sekali. Aku pun jadi ikut tertawa. Bahagia melihat tawamu yang sedemikian renyah, anggun memesona.

“Ini semua kata-kata yang kucari. Aku ingin bermimpi. Aku ingin berimaji, sembari berharap. Ah, senangnya kau menemukan kata-kata itu,” ujarmu sambil melirik padaku. Matamu berbinar dalam makna misteri yang belum dapat kupahami. Ya, aku belum memahamimu, atau apakah kamu yang belum memahamiku, padahal aku tahu kamu menyembunyikan kata yang kamu raih dari sampingmu. Kata ‘Sayang‘.

Di sini, di ujung dermaga yang senja telah berpeluk malam, aku dan kamu menatap cakrawala, menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok…

.

.

.

1326435453387764278

– sumber gambar dari sini

– banyak harapan Ramen (Rangkat Menulis) lainnya di sini, atau ikuti tag ramen ini.

Advertisements

1 thought on “Senja dan Kata-kata”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s