Di Balik Indahnya Film “Life Of Pi” karya Ang Lee

13547706741460867874
http://www.flickr.com/photos/lifeofpimovie/8020531507/in/photostream

Nonton deh film terbarunya Ang Lee, Life Of Pi, pasti berdecak kagum. Keren bangeeeet. Indaaaaah. Apalagi kalau nontonnya yang versi 3D, serasa masuk dalam film tersebut. Saya nonton versi 3D-nya di Blitzmegaplex, yang sudah pakai teknologi Real-D. Menurutku, nonton di bioskop dengan teknologi Real D, kacamatanya lebih nyaman, lebih luas, beda dengan yang di 21Cineplex yang fungsi 3D di kacamatanya terbatas, geser sedikit akan buram. Harusnya sih, nonton Life of Pi ini di Imax, sayangnya Imax Gandaria City belum menayangkannya. Jadii, ya mau ngga mau pilih nonton di Blitzmegaplex, lebih mahal sedikit ngga apa-apa.

Lhaaaa, ini kok malah ngomongin kacamata 3D sih? Hihihi. Eh tapi beneran deh, sebaiknya nontonnya dengan format yang 3D, ya, karena memang Ang Lee mau menyampaikannya lewat nuansa teknologi 3D.

Okeh, kita bahas filmnya aja, ya. Di Kompasiana ini sudah banyak yang menuliskan resensi film keren ini. Browsing aja ya di kanal hiburan, bagian film. Semua resensinya bilang film ini bagus dan keren.

 

1354731892983673938
Majalah TIME menyebut Life of Pi sebagai The Next Avatar (capture dari trailer http://www.youtube.com/watch?v=EYdqpyaVh0A)

Cerita film ini diangkat dari novel laris Life of Pi, karangan Yann Martel. Ceritanya sederhana, petualangan seorang Pi, yang setengah durasi filmnya, terjebak di lautan luas bersama seekor harimau. Namun, yang diharapkan Yann Martel dengan memberi mandat ke Ang Lee untuk menyutradarai novelnya adalah memvisualisasikan keindahan, kedalaman, kebersahajaan, dan kebesaran Tuhan. Untuk diketahui, proyek memfilmkan Life of Pi sudah dimulai oleh 20th Century Fox sejak tahun 2003, dan Ang Lee adalah sutradara keempat yang ditawarkan, setelah sebelumnya pihak Fox sudah menawarkan ke M. Night Shyamalan, Alfonso Cuarón dan Jean-Pierre Jeunet. Namun karena kesibukan dan pilihan lain dari para sutradara tersebut, akhirnya pilihan jatuh ke Ang Lee. Novel Life of Pi memang susah untuk divisualisasikan. Banyak orang, yang setelah mendengar gosip proyek film ini, menyangsikan kalau imajinasi Martel tidak akan sampai lewat visualisasi film, karena memang banyak film yang diangkat ke layar perak, tidak akan sama dengan imajinasi penulis dan pembaca novel.

Namun di tahun 2009, Ang Lee menerimanya, dan setahun berikutnya Lee memulai proses pra produksi film Life of Pi. Ang Lee pergi ke India, mengaudisi 3000 orang untuk mendapatkan satu pemeran utama, yaitu Pi Patel. Setelah berbulan-bulan, akhirnya Ang Lee menemukan Suraj Sharma, yang saat itu berusia 17 tahun dan belum pernah berakting. Asyiknya si Suraj Sharma ini, pengalaman berakting pertama kali langsung diarahkan sutradara besar kelas dunia, Ang Lee. Mulai sejak itu, Ang Lee menggodok Suraj dengan latihan-latihan untuk persiapan aktingnya.

 

13547249712080813069
Gaya Ang Lee dalam mengarahkan Suraj (capture dari Youtube )

Untuk urusan penyutradaraan, kita tidak perlu meragukan kualitas Ang Lee. Dia termasuk sutradara yang telaten untuk menggarap akting bintang filmnya. Heath Ledger salah satunya, yang bermain di film “Brokeback Mountain”, yang Ang Lee mendapatkan piala Oscar untuk bidang penyutradaraan. Jika sudah menonton Life of Pi, pasti akan sepakat jika aktor Suraj bakal dinominasikan di piala Oscar 2013 nanti. Suraj Sharma menghabiskan waktu hampir setahun untuk shooting Life of Pi di beberapa negara, dan melakukan program diet dalam beberapa bulan untuk menggendutkan dan menguruskan badan. Wah, jadi ingat dengan aktor Thailand di film Seven Something yang melakukan program diet untuk pembentukan badan.

Oke, lanjut ke soal gambar-gambar indahnya, ya. Dari awal, kita sudah disajikan gambar-gambar dengan sudut pandang film yang keren. Penata kamera Claudio Miranda mengambil angle untuk adegan-adegan di India dengan indah. Perhatikan deh saat adegan Diwali, atau Deepavali, festival cahaya. Ratusan lilinnya tergambar indah. Belum lagi adegan-adegan flashback di kelas ataupun di Perancis.

 

13547283992040225788
Adegan Diwali (capture dari Trailer Life of Pi di Youtube)

Nah, gambar-gambar selanjutnya petualangan Pi Patel di laut. Wah, pasti yang sudah nonton sepakat kalau Ang Lee telah membuat sebuah masterpiece dalam visualisasi film. Apalagi jika menontonnya dalam format 3D. Perhatikan adegan Pi melihat kapal besar yang tenggelam, adegan Pi melihat ke dalam laut, adegan laut yang dipenuhi cahaya, laut yang tenang yang penuh warna, adegan Pi melihat ke sumur air tawar di pulau, dan banyak lagi. Semuanya tergambar indah. Tidak salah kalau James Cameron, master 3D Hollywood dengan Avatar-nya mengagumi karya Ang Lee ini dengan menganggap kalau Ang Lee telah membentuk paradigma baru penggunaan teknologi 3D dalam film.

Di film ini, Ang Lee memang menghabiskan waktu lama (mungkin lebih dari setahun) untuk mengeksplorasi teknologi 3D untuk menghasilkan visualisasi yang imajinatif, surialis dan tak kehilangan kesan spiritual. Ang Lee bekerja sama dengan Rhythm & Hues Studios dan beberapa studio lain untuk mengerjakan detail-detail visual efeknya. Rhythm & Hues ini sudah sering mengerjakan visual efek untuk film-film Hollywood dan memenangkan Oscar untuk visual efek film Babe dan Golden Compass. Uniknya, dalam menggarap Life of Pi, Rhythm & Hues mengerahkan semua cabang studionya di enam tempat sekaligus, yaitu di Mumbai (India),  Hyderabad (India), Kuala Lumpur (Malaysia), Vancouver (Kanada), dan Kaohsiung (Taiwan). Di sini mereka menggunakan sistem remote rendering yang pertama kali digunakan di dunia, yang memanfaatkan teknologi Cloud dan internet kecepatan tinggi, yang dinamakan CAVE (Cloud Animation and Visual Effects) dan berpusat ke studio Taiwan. Biasanya kalau di studio animasi atau visual efek, menggunakan Rendering Farm, sistem render setiap frame yang menggunakan puluhan super komputer yang terhubung dalam satu jaringan intranet kecepatan tinggi. Nah, dengan teknologi internet kecepatan tinggi di Taiwan serta sistem Cloud, semua studio dimana pun lokasinya, bisa merender bersamaan. Canggih kan? Di Malaysia sendiri, ada 47 orang yang bekerja ribuan jam menggarap visual efek film ini, dan di artikel di sini mereka bangga bisa berkontribusi mengerjakan visual efek untuk film indah ini. Ada banyak bagian yang orang-orang Malaysia lakukan untuk film ini, salah satunya adalah membuat efek rambut Pi Patel yang dihembuskan angin kencang.

 

1354770321562933862
http://www.fxguide.com/featured/life-of-pi/

Oh ya, apa saja yang menjadi obyek visual efek di film ini? Di segmen Pi patel saat di laut, hampir semua obyek menggunakan efek. Suraj hanya shooting di kolam besar dengan perahu kecil. Kapal besar, ombak ganas, harimau Richard Parker, hyena, orang utan, ikan terbang, ikan paus, pulau yang penuh dengan meerkat pun dikerjakan dengan animasi dan visual efek. Shooting di kolam besar ini dilakukan selama lima setengah bulan di suatu bandara di Taiwan, yaitu Taichung Shui-nan Airport. Kolam berdimensi 70 meter kali 30 meter dengan kedalaman 3 meter, dikelilingi dinding warna biru untuk tehnik blue screen. Kolam ini dirancang bisa menghasilkan ombak tinggi. Saat Pi Patel beradegan di dek kapal TsimTsum, shootingnya pun dilakukan di kolam tersebut dengan menggunakan krane yang menggoyangkan dek kapal. Berkunjunglah ke artikel ini untuk melihat bagaimana Rhythm & Hues, yang dipimpin Bill Westenhofer, membentuk semua visual efek yang akhirnya terlihat indah di layar bioskop.

Saya pun kagum dengan akting Suraj, yang baru pertama kali ini berakting, dan ketelatenan Ang Lee dalam penyutradaraannya. Bayangkan, Suraj hanya berakting seorang diri di tangki besar, tanpa menghadapi Richard Parker si harimau, dan lainnya. Imajinasi dan penghayatannya sangat tinggi. Begtu juga dengan visual efek Richard Parker. Kita akan lupa kalau banyak dari adegan si harimau itu adalah animasi.

Jangan lupakan komposisi musik dari Mychael Danna. Membius. Saya prediksi dia akan dinominasikan masuk di piala Oscar 2013. Apalagi dengan komposisi di lagu pembuka film, yang bekerja sama dengan legenda penyanyi India,  Bombay Jayashri, di Pi’s Lullaby, sangat pas. Jayashri memang punya suara indah dan terkenal dengan alunannya yang syahdu. Silakan dengar lantunannya di video youtube ini.

Menurut Suraj, ada 2000-an orang yang terlibat di produksi film ini. Kolosal kan? Banyak orang India yang terlibat di film ini, karena memang sebagian besar shooting dilakukan di India. Ang Lee melibatkan penata kostum film-film India yang mendunia, tentunya juga penata kostum beberapa film Hollywood, yaitu Arjun Bhasin. Untuk kostum renang di adegan kolam renang (yang akhirnya nama tempatnya dijadikan nama Pi Patel), Arjun Bhasin mengajak stylish swimwear terkenal dari India, yaitu Shivan dan Narresh. Mereka merancang 81 baju renang baru untuk adegan yang tidak sampai 5 menit.

Oh ya, ada satu orang yang sangat berpengaruh terhadap jalannya cerita, yaitu editor film. Dia sangat penting, karena dia juga lah yang menjadi penyampai story-telling sang sutradara. Editor film ini langganannya Ang Lee. Hampir semua film Ang Lee, disunting olehnya. Dia adalah Tim Squyres. Perhatikan jalan cerita melalui lompatan flashback dan masa kini. Kita tak akan terasa terganggu dengan lompatan-lompatan waktu ini. Penyuntingan filmnya sangat halus, sehingga tak terasa kita telah duduk selama lebih dari 2 jam untuk menonton film ini.

Nah, jadi, bagi yang belum nonton Life of Pi 3D, buruan nonton deh, karena sebentar lagi bakal tayang film yang ditunggu-tunggu, The Hobbit: An Unexpected Journey karya Peter Jackson, juga dalam format 3D. Di IMDB sudah tercantum nilai rating film ini, 9,1 dari 10. Coba deh berkunjung ke situs resminya di sini.

Nih kata Ang Lee di artikel ini“3D is a new cinematic language I wanted to create the movie in. Life of Pi is as much about immersing audiences in the characters’ emotional space as it is about the epic scale and adventure.” Dan Oscar pun sudah membuat pers release kalau Life of Pi masuk dalam daftar yang bakal dapat nominasi Academy Award 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s