Wawacanda @KoplakYoBand di Kompasianival 2014 – Bagian 2

Nih ngelanjutin artikel sebelumnya di sini ya -> Wawacanda @KoplakYoBand di Kompasianival 2014 (Jelang #Kompasianival2015) – Bagian 1

Platform penulisan di Kompasiana sekarang ini ngga keren. Lebih keren yang dulu karena bisa embed video, baik dari Youtube, maupun dari Vimeo atau lainnya. Sepertinya juga ga bisa embed script lain, semisal embed tweet ataupun instagram, padahal itu bisa jadi modal penting di jurnalistik, selain (yang cuma bisa) pasang foto. :))

Jadi karena (sekali lagi) ngga bisa embed video dari Youtube, di sini cuma bisa kasih gambar-gambar yang kalo diklik mengarah ke Youtube-nya KoplakYoBand.

Eh, ngga boleh mengarahkan pembaca ke link luar ya? #eaaaa

Langsung aja, ya. Di video keempat berikut ini (yang 3 video sudah ada di artikel bagian pertama) adalah wawacanda koplaknya si Yayat aka Mrs Valen. Eh salah, Mrs Vale. :))  Nah si Yayat ini ngobrol ama Mas Dulkemit aka Kandar Tjakrawerdaja. Sekarang nama kerennya si Dulkemit ini adalah Zaki Iskandar. (Begitu nama keren???!! … )

Mas Kandar ini orangnya inspiratif, selain aktual, menarik dan terpercaya (verified centang biru). Sekali dibilang @KoplakYoBand ngadain acara, dia selalu bela-belain dateng dari kampungnya yang nun jauh di sana. Ya ngga di Kompasianival, ya di kopdar halal bihalal, selalu aja dateng. Padahal waktu untuk bercengkerama dengan modusannya di KYB, cuma sebentar. (Modusannya?? Siapaaa?? #eh)  Ya di Kompasianival 2014 aja, dia sampe Jakarta saat subuh. Sorenya langsung pulang. Dia udah puas kalo udah bisa pegang mic panjangnya KYB serta jadi presenter. Biasaaa, buat modal ngelamar di stasiun TV kampungnya, yang udah pake sistem TV Kabel. Maksudnya, TV pake kabel terbatas antar kamar, seperti interkom. :))

Ealaah, malah ngomongin Kandar. Ya udah, liat aja video di link Youtube ini. Klik aja gambarnya yak.

Nah, di video kelima ini, durasinya cukup panjang, karena saat itu Koplak Yo Band ngga putus-putus live streamingnya. Padahal ya, hampir semua Kompasianer pasti mampir ke stand Koplak Yo Band untuk ngoplak bareng alias kasih testimoni. Jadiii, kalo mau lihat Kompasianer itu terverifikasi BIRU, ya pantengin tampang-tampang mereka di video Koplak Yo Band, ya. Siapapun yang berani tampil koplak di Live Streaming Koplak Yo Band, berarti sudah terverifikasi Biru. :)))

– Lha, yang ngga bisa dateng ke live streaming Koplak Yo Band, berarti ngga verified, ya?

+ Bisa centang biru dong. Kan suatu saat bakal live streaming bareng-bareng dengan mereka pakai Google Hang-Out atau Skype. Nah, pas dia nongol, langsung deh centang biru. :)) .. Pokoknya kalo belon dikoplakin ama Yayat atau Dessi atau presenter KYB lainnya di Live Streaming KYB, berarti belum verified .. #ealaaaaaaah .. :))

Eh ngelantur jadinya. Hihihi. Ya gimana ngga ngelantur ya, jangankan Kompasianer yang mau tampil di Live Streaming Koplak Yo Band, wong mentri, gubernur dan seleb-seleb aja mau tampil kok di LS KYB. Jadiii, jangan sungkan-sungkan untuk ngoplak bareng di LS KYB ya.

– Woooy, makin ngelantuuuuuurr!!

Jadi beginiiii. Di video kelima ini adalah awal-awalnya nih beberapa Kompasianer ngoplak di LS KYB. Bermula sih asal nangkep aja Kompasianer yang lewat di depan booth KYB. Ada Mak Fitri Yenti, Mak Kim Foeng, Mak Intan, dan Oma Eni. Mereka sepertinya sudah hapal gaya ngoplaknya Yayat.

Masih di video kelima itu, adalah Om Thamrin Sonata yang selalu inspiratif dalam mengajak Kompasianer untuk lebih kreatif meng-emas-kan tulisannya di blog keroyokan ke dalam buku hasil karyanya. Tuh, yang mau membukukan tulisannya, daripada susah diakses saat server Kompasiana ngoplak, mending hubungi Om Thamrin Sonata.

Om Thamrin Sonata beserta kawan-kawan Kompasiner yang sudah bikin buku, bergabung di Komunitas Peniti. Apa itu Komunitas Peniti? Sudah berapa banyak buku yang dihasilkan mereka? Ya lihat aja videonya itu yak.

Di bagian akhir, video ngoplak bareng rekan sesama Koplak Yo Band, yaitu Ibu Seno. Nah, Kandar dan Ibu Seno ini, di video lanjutan nanti, akan menjadi presenter juga di Live Streaming Koplak Yo Band di Kompasianival 2014. Seperti apa mereka jadi presenter, ya tunggu aja di artikel lanjutan ya. Itu pun kalo ane lagi ngga ada orderan kerjaan ya, jadi sempet ngupload ke Youtube. Hehehe.

Advertisements

Wawacanda KoplakYoBand di Kompasianival 2014 (Jelang #Kompasianival2015) – Bagian 1

B = Desss, pak Jonan, Des!!

D = Hee?! (masih ngos-ngos-an gara-gara nyari spidol)

B = Ituuu. Buruan kejar.

D = (ngejar pak Jonan) Nanya apa, Beh?

B = Eee… anuu .. soal tidur ajaa, dia kan suka tidur di kereta.

D = Okehh!!

Dan Dessi pun nyegat Pak Jonan yang buru-buru mau pulang menuju ke tempat kerjanya. Eh, pak Jonan pun bersedia meluangkan waktunya untuk diajak wawacanda. Kamera dan segala kabel-kabel panjangnya ditarik ke depan gerbang Gedung Sasono TMII. Setelah itu langsung deh terjadi wawacandanya. Berhubung pewawacandanya (Dessi dan Yayat) itu cerdas-cerdas, terjadilah dialog-dialog panjang dalam wawacandanya. Hehehe.

Eh gitu tuh sekelumit cerita saat Koplak Yo Band nge-live streaming acara Kompasianival 2014, 22 November 2014. Hehe, maaf aja ya, berhubung ane kerja dan lagi banyak orderan (ngga nganggur) jadinya baru bisa upload hasil rekamannya. Itung-itung nostalgila lah menjelang #Kompasianival2015.

Video-video di bawah ini baru 3 ini yang di-upload di akun Youtube-nya KoplakYoBand. Itu pun yang hasil rekamannya bagus. Ada beberapa yang terputus di tengah-tengah ataupun suaranya kresek-kresek (bahkan hilang). Yah, namanya juga rekaman. Yang diutamakan saat live streaming kan jaringannya dan gambar yang distreaming, tidak terputus. Rekaman nomor ke sekian.

Nih video wawacandanya Dessi ama Pak Jonan -> https://www.youtube.com/watch?v=8f3uJrdABKQ

Berikut wawacandanya dengan Kang Pepih. Oh ya, video ini ada dua orang yang diwawacanda. Mulai menit 5.41, Dessi ngobrol dengan Kang Banu Astono, Vice Director of Community Affairs Kompas Group. Ngobrolin soal komunitas. Bagi yang berkecimpung dalam komunitas, apapun komunitas itu, baik komunitas yang jelas maupun yang ga jelas, silakan disimak. Bagus kok menurutku diskusinya.

 https://youtu.be/KPQBpHRKZgw

Di akhir ini, giliran Yayat aka Mrs 46 aka Mrs Rossi ngoplak bareng Kang Nurul Uyuy, yang selalu menyimak curhatan, keluh kesah dan caci makian ke Kompasiana. Hehe. Nonton aja deh ya.

https://youtu.be/qSWA71-vb2M

Video-video lainnya menyusul di bagian selanjutnya yak. Lucu-lucu kalo ditonton ulang. Hampir semua kompasianer yang dateng diwawacanda ama KoplakYoBand, termasuk liputan keliling stand-stand komunitasnya. Doain dong ane sempet nguploadnya. #eh :))

Lanjut di Wawacanda @KoplakYoBand di Kompasianival 2014 – Bagian 2

Mau Touring? Ini Oli Yang Pas Untuk Touring

Gara-gara kunjungan ke pabrik PT Federal  Karyatama, yang memproduksi oli berkualitas “Spesialis Dingin” dengan merek Oli Federal, saya pun turut menjajal ketangguhan dan ke-spesialis-an oli Federal. Ngga tanggung-tanggung, oli yang saya pergunakan adalah oli sintetik Federal Supreme XX Racing dengan spesifikasi SAE 10W-40. Oli ini saya dapat dari goody-bag dari PT Federal Karyatama, namun yang ini kemasannya berwarna gold, bukan perak seperti yang ada di websitenya http://federaloil.co.id/product.

Motor yang saya gunakan sih jenis matic, Vario 150cc, dan jarak tempuh juga lumayan jauh, Setiabudi – Parung Kuda Sukabumi. Trek yang dilalui ini cukup menantang. Berboncengan dengan mantan pacar (yang kini jadi istri), motor lumayan saya jalankan di kecepatan 60-80 km/jam.  Tau kan jalur Sukabumi. Itu jalur yang lumayan menanjak, dan banyak klub-klub motor mengadakan turing di sana. Mereka mengambil jalur Sukabumi, selain untuk wisata, melepas lelah, juga untuk menjajal trek menanjak dan kelak-kelok jalur Sukabumi. Apalagi jalur ini juga terkenal macet. Kebayang kan, macet, bawa beban, dan menanjak. Paket komplit untuk menjajal ketangguhan oli Federal, untuk membuktikan apakah benar seperti yang dikatakan para penguji di Endurance Test Banda Aceh – Jakarta, bahwa oli yang digunakan, yang sama dengan yang saya gunakan, memang benar-benar spesial untuk turing. Apakah benar oli Federal Supreme XX Racing ini memang terbukti mengentengkan tarikan dan cocok untuk perjalanan jauh dengan rintangan macet dan tanjakan?

Awal cerita adalah saat jumpa pers “Endurance Journey With Federal Oil”. Pihak penguji adalah tim dari Motorsport yang berpengalaman menguji banyak motor dan spare-part motor, termasuk oli. Mereka menempuh total jarak 3.557 km, dari Banda Aceh menuju Jakarta. Mereka menggunakan 4 motor, salah satunya tipe yang sama yang saya gunakan untuk turing ke Sukabumi, yaitu Vario 150. Sebenarnya sih saya bukan menjalankan turing resmi, tapi menjenguk anak yang sekolah di sekitar Parung Kuda, Parakan Salak, Sukabumi. Namun perjalanan jauh dan kondisi medan, tidak jauh berbeda dengan touring untuk pengujian “endurance”.

Cuma bedanya turing ala tim Motorsport dengan saya adalah, mereka benar-benar melakukan pengujian dengan serius, dari mulai A – Z. Dari membongkar mesin sejak awal, untuk dicek kondisi sebelum menggunakan oli Federal, hingga pengisian oli, penggeberan sejauh 3.500 km lebih, dan akhirnya setelah sampai di Jakarta, membongkar kembali blok mesinnya, melihat kondisi spare-part yang bergesekan dengan oli Federal, juga yang paling canggih mengukurnya dengan tabel-tabel perbandingan yang biasanya dilakukan penguji-penguji profesional.

Beda dengan saya. Pengujian berdasarkan intuisi sendiri. Motor ini beberapa kali saya gunakan untuk perjalanan cukup jauh, Setiabudi – Alam Sutra, yang jauhnya lebih dari 60 km pulang/pergi, dan mengalami hambatan macet di sepanjang jalan Cipulir. Pengenalan dan (hingga) akrab dengan gaya tarikan mesin pun didapat berkat mengendarai motor Vario 150 ini hampir lebih 20x pulang pergi Setiabudi – Alam Sutra. Jadi saya anggap, saya cukup mengenal gaya tarikan mesinnya.

Nah, saat mau berangkat touring ke Sukabumi, oli motor dikuras, dan diisi dengan oli Federal Supreme XX Racing ini. Setelah itu, langsung dijalankan ke Sukabumi di siang hari. Bensin yang digunakan tidak berbeda dengan yang biasa, masih menggunakan bensin produk Shell, yang nilai oktannya memang cocok dengan mesin 150 cc Vario.

Kalau tim MotorSport menguji “endurance”-nya dengan menggeber dengan kecepatan 90-110 km/jam, saya cukup menggeber dalam kecepatan 60 – 80 km/jam. Bagi saya, itu termasuk ngebut/kencang, apalagi berboncengan dengan istri dan menembus medan jalur Sukabumi. Namun, kalau tau trek Sukabumi, Parung Kuda, trek menanjak yang berkelok-kelok memang menantang pengendara untuk menggeber di kecepatan 60-80 km/jam. Biar ngga ngantuk dan bosen di jalan, dan biar terasa beda saat touring maupun berkendara harian. Tau sendiri kan mengendarai motor di Jakarta itu, selalu menemukan kemacetan.

Oh ya, test endurance dari MotorSport ini memang dilakukan karena Pak Patrick, Presiden Direktur PT Federal Karyatama, merasa tertantang, apakah produk oli barunya itu bisa lolos uji untuk test endurance yang dilakukan pihak MotorSport. Pak Patrick awalnya juga was-was dengan oli buatan pabriknya. Tau sendiri kan, yang menguji ini adalah profesional-profesional yang juga kerja di media. Jika hasil pengujian menunjukkan keburukan, maka para penguji akan mempublikasikan hasil apa adanya ke pembacanya. Apalagi media sudah banyak yang online, aksesnya tidak hanya didapat oleh para pembeli tabloidnya, namun juga pengakses media online di seluruh dunia. Walau berbahasa Indonesia, seluruh dunia bisa membacanya dengan menggunakan google translate.

PT Federal Karyatama tidak hanya kali ini melakukan pengujian untuk oli produksinya. Di bulan Oktober 2012, untuk memeriahkan hari Sumpah Pemuda, PT Federal Karyatama menguji oli barunya saat itu, yaitu Federal Oil Flick 40 dan Evotec 40, yang memiliki kekentalan SAE 10W-40W. Rutenya dari Jakarta hingga Denpasar Bali, dengan jarak tempuh lebih dari 1.600 km. Dalam pengujian di tahun 2012 ini, PT Federal Karyatama membandingkan dengan oli standar pabrikan motor. Hasilnya ternyata oli buatan Federal lebih dingin dan minim penguapan. Oli tidak berkurang di dalam blok mesin. http://news.federaloil.co.id/read/1721/20120928/Hasil-Uji-Federal-Oil-SAE-10W-40-Lebih-Adem-dan-Minim-Penguapan

Kalau di Endurance Journey kemarin, yang menempuh jarak lebih dari 3.500 km, pihak MotorSport mengeluarkan hasil bahwa oli Federal yang digunakan bekerja dengan maksimal melumasi seluruh komponen mesin. Mesin bekerja lebih enteng dan tarikan lebih meningkat dibanding oli resmi dari pabrik untuk motor-motor yang digunakan. Yang membanggakan bagi pihak PT Federal Karyatama adalah pihak penguji, MotorSport, setelah membeberkan hasil pengujiannya, menyebutnya dengan kata “SPESIAL” untuk oli Federal, dalam arti, oli Federal yang digunakan benar-benar Spesial untuk digunakan touring dengan trek dan kondisi mengendara yang cukup berat.

Memang, oli Federal buatan PT Federal Karyatama ini sudah full sintetik 100%, yang sudah dilengkapi dengan active polimerdouble active cleaner dan advance active moly. Efek dari penggunaan zat-zat aditif ini membuat tarikan mesin menjadi enteng, BBM lebih irit dan optimal pada suhu tinggi karena beban mesin yang berat karena dikendarai dengan kencang dalam waktu yang lama.

Di acara jumpa pers kemarin juga diperlihatkan kondisi spare-part dari mesin motor yang digunakan untuk Endurance. Terlihat kalau spare-part hasil endurance, tidak memperlihatkan kerusakan ataupun gesekan yang berlebihan. Piston masih terlihat mulus. Ini menandakan oli Federal bekerja sempurna, dan pantas disebut dengan Spesial.

Nah kalau hasil touringku? Ya begitu, tarikan lumayan meningkat, menjadi lebih enteng. Jarak tempuh yang dihasilkan adalah 220,2 km. Angka 9863,0 km tercatat saat berangkat dari pangkalan bensin Shell di Casablanca, yang tidak jauh dari rumah Setiabudi. Pulang pada malam harinya di hari itu juga tercatat 10083,2 km, yang tercatat saat pengisian bensin kembali di pangkalan bensin Shell yang sama, di Casablanca. Memang saya sengaja mengukur keiritan bensinnya. Saat awal mengisi (Sabtu, 12 September 2015), bensin mencapai bibir tangki. Begitu juga di malam hari besoknya (Minggu 13 September 2015), bensin mencapai bibir tangki di posisi yang sama. Jumlah bensin yang terisi ternyata 5,51 liter. Jika dihitung rata-rata, bensinnya menghabiskan 39,9 liter/km. Lumayan irit karena saya berboncengan, plus beban tas, trek yang banyak menanjak, terkena macet di sepanjang jalur Sukabumi. Apalagi di sekitar Parung Kuda, kemiringan tanjakan ada yang mencapai hingga 40 derajat. Cukup curam. Di saat pulang ke Jakarta, saya sengaja melalui jalur alternatif, masuk dari Stasiun Cigombong, yang tembus ke perkebunan duren Warso, dan muncul di Stasiun Batu Tulis, Bogor. Trek tanjakan dan turunan di sini lumayan mengasyikkan.  Sepanjang touring ini, saya tidak mempraktekkan meng-gas halus (menghiraukan tehnik berkendara irit), tapi tetap menggeber, dikarenakan kondisi jalan tanjakan dan macet. Bisa repot jika menggunakan tehnik irit karena takutnya disundul oleh kendaraan di belakang yang umumnya melaju dengan kencang.

Akhir kata dari saya sebagai penguji Oli Federal Supreme XX Racing ini, saya bisa sebut dengan SPESIAL juga. Jadi bagi yang mau touring atau melakukan perjalanan jarak jauh, seperti mudik menggunakan motor dengan berboncengan dan beban berat, ataupun bagi pengendara motor harian namun setiap harinya menempuh perjalanan jauh dan trek macet, seperti Gojek, ada baiknya memilih oli yang cocok dengan mesin motornya. Saran saya, dan saran dari MotorSport, ya gunakan saja oli yang benar-benar Spesial, yaitu oli buatan Federal.

Oh ya, Kompasianer ada yang mau touring rame-rame? Barangkali pihak PT Federal Karyatama akan turut mensupport acara Kompasiana Test Drive menggunakan motor, seperti yang sering dilakukan oleh PT Federal Karyatama.

Kualitas Oli Itu Tercermin dari Perusahaannya

 

9 September 2015 kemarin, saya dan banyak kompasianer berkunjung ke pabrik oli Federal, tepatnya ke pabrik PT Federal Karyatama yang ada di kawasan industri Pulogadung, Jakarta. Dalam kunjungan ini kami bertatap muka dengan para petinggi PT Federal Karyatama, sekaligus melongok pabrik modernnya, yang sudah menggunakan sistem robot, untuk melihat lebih dekat proses fabrikasi oli bermerek Federal. Di hari itu juga kami mengikuti acara jumpa pers tentang kegiatan Endurance Test.

Para pemilik roda dua alias motor pasti tahu apa itu oli Federal, apalagi yang dulu punya motor bermerek Honda. Di setiap blok mesinnya, tepatnya di samping tutup olinya, pasti ada stiker atau lempengan yang bertuliskan “Motor ini menggunakan oli Federal” dan ada logo huruf “K” dari logo PT Federal Karyatama. Memang, oli Federal ini sudah dari dulu menjadi oli resmi untuk motor Honda, namun sekarang Honda sendiri sudah memproduksi oli sendiri, buatan AHM. Tapi kalau ditelusuri oli AHM ini diproduksi oleh siapa, ya nantinya akan berujung di grup yang sama, yaitu MPM, PT Mitra Pinasthika Mustika TBK.

MPM ini bukan grup perusahaan kecil, melainkan grup korporasi besar. Komisarisnya adalah Edwin Soeryadjaya, Milyuner urutan ke 1533 di dunia (menurut Forbes), dan urutan ke-26 di Indonesia. MPM grup, yang didirikan tahun 1987, ini punya banyak perusahaan di bawahnya, seperti distributor tunggal sepeda motor dan suku cadang Honda di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur, serta penjualan suku cadang motor Honda, penjualan semua merek Nissan dan Datsun, pemimpin pasar oli dengan merek Federal, rental kendaraan besar, yang armadanya lebih dari 15ribu kendaraan, serta mengurusi juga soal finansial dan asuransi otomotif.

Yang pernah nyewa/rental mobil untuk perusahaannya, pasti tau MPM rental kan? Yang ngurusin motor Honda-nya ke bengkel, pasti tau kan spare-part orisinil itu buatan AHM ataupun Federal, karena ya memang harus memilih spare-part yang orisinil agar kendaraannya tetap awet dan ngga bermasalah di jalanan. Dan seperti tadi disebut di atas, oli resmi motor Honda dulunya pasti bermerek Federal.

PT Federal Karyatama ini lahir 6 Mei 1998 yang dibidani oleh William Soeryadjaya, ayah dari komisaris utama PT Federal Karyatama. Tau kan ya siapa (alm) William Soeryadjaya? Dia ini pendiri Astra dan pencetak orang-orang kaya di dunia yang dulunya berkarir di grup Astra.

PT Federal Karyatama, selain dipercaya sebagai mitra toll pelumas resmi AHM motor Honda, yang memproduksi oli AHM sejak 2009, juga menjadi mitra dari PT Pertamina Lubricants, walau fokus utamanya adalah oli Federal. Oli Federal menguasai 20% pangsa pasar oli nasional, dan sejak tahun 1992 sudah mengekspor oli Federalnya ke Vietnam. Di tahun 2009, PT FK meluncurkan Federal Racing Oil, produk pertama lokal untuk oli balap. Dan tahun depannya, 2010, pabrik Honda asalnya yang dari Jepang itu, memberi sertifikasi untuk oli-oli produk buatan PT Federal Karyatama.

Kembali ke obrolan kunjungan ke pabrik. Situasi pabrik juga menjadi cerminan profesionalitas perusahaan. Saat kami ke sana, Pak Patrick Adhiatmaja, Presiden Direkturnya menyambut kami, dan memberi kata sambutan kepada blogger Kompasiana. Nah tuh, jarang-jarang kan blogger langsung ditemui oleh Presiden Direktur. Malah pak Patrick ini juga bisa menempatkan dirinya di hadapan blogger, dengan memulai sambutannya dengan candaan kalau dia bukan Patrick yang di Spongebob. Oh ya, Kompasianer juga disambut oleh General Manajer lho, yaitu Ibu Erika Dianasari Go, General Manajer Marketing PT Federal Karyatama. Tuh kan, ngga tanggung-tanggung kan personil yang menyambut Kompasianer.

Di sesi penjelasan tentang produk oli Federal, Rais Rachman dari Research and Development PT Federal Karyatama menjelaskan panjang lebar produk-produk unggulan oli Federal. Ada Federal Matic, ada oli untuk motor bebek maupun sport, dan ada juga oli yang khusus balap. Yang menarik adalah oli Federal Super Racing, yang performance-nya paling tinggi, dengan SAE 5W – 30W. Ini oli yang bener-bener 100% sintetis. Oli Federal memang mengklaim sebagai oli dingin, berkat teknologi-teknologi modern yang diterapkan di pabriknya, seperti menggunakan teknologi Turbo Ventury Molecule Chrusher, yang diterapkan untuk meningkatkan kualitas produk dan efisiensi yang signifikan pada proses blending pelumas. Apalagi sejak tahun 2009, PT Federal Karyatama sudah mulai memproduksi oli-oli untuk balap. Dan di tahun 2011, Oli Federal ini unggul dalm uji ketangguhan pelumas dengan berkendara nonstop sejauh 1500 km dari Jakarta Denpasar sebagai pelumas tahan lama dibanding merek lain. Sejak saat itulah oli Federal dikenal sebagai oli “Spesialis Dingin”.

Sebelum kami masuk ke pabrik, Kompasianer dijelaskan soal tata tertib kunjungan di pabrik, seperti dilarang memotret, menyentuh apapun yang ada di pabrik karena bisa mengakibatkan terganggunya proses produksi. Dari sini saja sudah terlihat bagaimana perlakuan secara profesional untuk proses produksi oli Federal. Karena tidak diperkenankan memotret, saya pun hanya bisa tanya jawab cukup lama dengan Pak Rais di areal pabrik. Ya tanya jawabnya sih tidak jauh dari obrolan konsumer saat di bengkel, seperti “apa benar, salah pilih oli bisa mengakibatkan mesin mengelitik?” Atau “Gimana caranya membedakan oli asli buatan Federal, dengan oli palsu yang menggunakan merek Federal?” Bahkan saya juga bertanya (saat berkunjung di laboatorium penelitian di pabrik), “Pihak pabrik sendiri tau ngga kualitas oli palsu dan oli-oli yang beredar di pasaran?”

Enaknya berbincang-bincang dengan Pak Rais ini adalah beliau dengan ramah dan terbuka menjawab semua pertanyaan yang menurut saya agak krusial. Beliau memberitahu bahwa laboratorium di PT Federal Karyatama ini juga meneliti kualitas oli-oli palsu dan beberapa oli-oli yang beredar di pasaran. Menurutnya, itu dilakukan untuk menjaga kualitas dari oli Federal itu sendiri. Pak Rais juga memaparkan kalau laboratorium ini juga melakukan test-test berat yang bisa menurunkan performa mesin dan performa oli itu sendiri, sehingga akan didapat hasil oli yang bisa mengatasi permasalahan umum di sekitar mesin, baik untuk motor yang digunakan sehari-hari, maupun yang digunakan dengan beban kerja yang tinggi, bahkan di labortarium ini juga dilakukan pengujian-pengujian untuk menghasilkan oli sintetik yang berkualitas untuk balap, yang performa mesinnya sangat diunggulkan. Pak Rais menjelaskan bahwa setiap oli untuk balap itu, kadar kualitasnya berbeda-beda, dikarenakan untuk menyesuaikan kondisi sirkuit.

Di pabrik PT Federal Karyatama memang terlihat sedikit karyawan yang bekerja di sana. Hampir semuanya, bahkan untuk pembungkusan menggunakan karton pun, sudah menggunakan robot. Untuk diketahui, teknologi robotik ini diterapkan di PT Federal Karyatama sejak tahun 2011.

Saat kembali dari pabrik, dan pada sesi makan siang, saya melihat di ruangan, berjejer banyak penghargaan dan sertifikat. Salah satunya dan yang terbaru adalah sertifikat THE BEST COMPANY OF THE YEAR, yang diterima PT Federal Karyatama untuk tahun 2015. Sebelum-sebelumnya, Federal Oil memang selalu mendapat penghargaan untuk Product Quality, seperti yang didapatkan di tahun 2014 untuk kategori pelumas roda dua.

Kualitas dari produk yang dihasilkan memang seyogyanya diikuti oleh kualitas dari perusahaan yang memproduksinya. Dari segi pelayanan, PT Federal Karyatama juga sudah profesional, dengan menyediakan oli-oli Federalnya ke seluruh pelosok daerah. Jadi ngga akan susah menemukan oli Federal di manapun di Indonesia, karena sudah menjadi kerjasama dengan 10ribu lebih jaringan mitra bengkel-toko suku cadang di Indonesia.

Untuk lebih membuktikan bahwa kualitas oli Federal ini terbaik, PT Federal Karyatama juga berkiprah di ajang balap bergengsi kelas Indonesia dan dunia. Tidak tanggung-tanggung, Rumah Modifikasi Gresini, yang sering melahirkan pembalap-pembalap andal kelas dunia, digandengnya, yaitu dengan menjadi sponsor utama tim Federal Oil Gresini Moto2. Tentunya Gresini tidak asal sembarang memilih pihak pendukung untuk menjadi sponsor utama motor-motor modifikasinya, apalagi untuk bertarung di ajang Moto2 kelas dunia. Di ajang lokal, Oli Federal juga sangat sering berkiprah di kejuaraan lomba balap motor. Dan baru-baru ini PT Federal Karyatama mengadakan Special City Rally untuk motor matic.

PT Federal Karyatama juga tidak pernah tanggung-tanggung memanjakan para pengguna olinya, seperti telah beberapa kali memberikan perjalanan gratis untuk nonton balap Moto GP, mensuport ajang pertemuan klub motor, memberikan oli gratis, dan juga mengadakan test endurance jarak jauh, seperti yang terakhir dilakukan yaitu acara Test Endurace Journey, dari Banda Aceh menuju Jakarta.

Kalau ingin tahu lebih dekat dengan Oli Federal, ya silakan berkunjung ke websitenya www.federaloil.co.id yang dibuat sejak tahun 2005. Di situ banyak sekali informasi mengenai perusahaan, sejarah, perkembangan, produk serta berita-berita balap Moto 2. Setiap hari website ini selalu update, mencerminkan kalau memang website ini dikelola secara profesional. Jarang-jarang lho website perusahaan mengupdate 2 sampai 3 berita setiap harinya.

Atau kalau mau lebih dekat untuk tanya jawab, ya langsung aja ngobrol di akun twitternya https://twitter.com/federaloil_id yang responsif dan selalu cepat memberikan jawaban atau mention.

Mau lebih mudah lagi? Ya install aja aplikasi Federal Oil di hape Android https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ADM.federaloil . Di situ lumayan update tentang info produk, maupun info berita balap dan pengetahuan soal motor.

Ini screenshot aplikasi di android.

 

Boriska, Anak Indigo, Yang Pernah Mampir Di Peradaban Lumiere (900.000 Sm) – Bagian Kedua

Lanjutan dari Sisi Lain Dari Boriska, Anak Indigo, Yang Mengaku Pernah Hidup Di Planet Mars (Bagian Pertama)

Melanjutkan cerita kenapa Boriska bisa dikagumi oleh ilmuwan dunia, termasukprofesor dan peneliti di Russian University bernama Gennady Belimov.planetx-hercolubus-nibiru.blogspot.com/2010/11/extraterrestrials-news-boriska-boy-from.html.

Selain bercerita tentang kehidupan masa lalunya di Planet Mars, Boriska juga pernah pergi ke bumi untuk penelitian. Dia menerbangkan sendiri pesawat luar angkasanya. Ini terjadi saat adanya peradaban Lumiere. Boriska juga mengakui pernah berteman dengan seorang bangsa Lemurie yang mati terbunuh di depan matanya.

Teman-teman Mindtalk.mindtalk.com mungkin sudah ada yang tahu cerita tentang Peradaban Lumiere, ya. Oke, di sini saya akan sedikit cerita tentang Lumiere (bukan Limoliya, seperti yang @elzanisa tulis di artikel Borischa, Anak Yang Berasal Dari Mars!!!.mindtalk.com/#!/post/4e3e2064bf866c1d13001485)

Lumiere adalah suatu peradaban jaman dahulu, terletak di Pasifik Selatan, antara Amerika Utara dengan Asia/Australia. Lumiere juga disebut-sebut merujuk pada Benua Mu, atau Motherland. Peradaban Lumiere muncul sebelum peradaban Atlantis, yaitu antara tahun 900.000 tahun sebelum Masehi hingga 25.000 sebelum Masehi. Sementara peradaban Atlantis muncul antara 400.000 SM hingga 10.000 SM.

K8wp1l jpg

Yang keren dari Bangsa Lumiere adalah mereka berkomunikasi menggunakan telepati, dan ada guru India menyebutkan kalau bangsa Lumiere itu bangsa yang sangat maju.

Continue reading “Boriska, Anak Indigo, Yang Pernah Mampir Di Peradaban Lumiere (900.000 Sm) – Bagian Kedua”

Meningkatkan Semangat Kerja dengan Aktifitas yang Sensasional

– Kerja kerja kerja!!

+ Capek boss kerja terus!!

Jangan pernah ngerasa capek saat kerja. Kerja itu ibadah. Kan kerja itu menghasilkan uang untuk keluarga, juga untuk diri sendiri. Ntar kalo ngga kerja, mau makan apa? Mau jajan apa? #eh

Kerja itu memang rutinitas. Kerja itu harus fokus. Kalau bisa ya jangan diselang-selingi hal lain yang menghambat pekerjaan. Selesaikan dulu yang jadi pekerjaan utama. Yah selang-selingnya sih bisa (harus) di saat istirahat, ya pas makan siang atau makan malam. Yang penting jangan kebanyakan istirahatnya alias selang-selingnya, ntar malah ngga selesai-selesai pekerjaannya. Target malah molor. Yang ada utang harian malah melebar kemana-mana.

Tapi menghadapi rutinitas yang seperti itu, bisa diselingi oleh aktifitas yang lain, yang bikin semangat kerja makin naik. Kalau bisa yang sensasional, biar seru dan nambah semangat kerja.

Beberapa tahun terakhir ini, kerjaanku yang bukan orang kantoran alias bukan kerja di kantor, lumayan padat, dan makin padat kayanya deh. Ya ngurusin film-film ini itu lah. Ngurusin studio di sana di sini lah. Ngurusin streaming di sana sini lah. Apalagi ternyata kebutuhan film di media online ataupun bioskop makin banyak, ya akhirnya padat lah pekerjaan di rumah.

Resikonya ya gitu. Untuk fokus ke pekerjaan biar ngga terlambat jadwal kerjanya, harus ngurangin (bahkan ninggalin) aktifitas sosial media. Tapi ya jangan ninggalin sama sekali aktifitas ber-sosmed ini. Ya kan ber-sosmed itu menghidupkan suasana kekeluargaan dan kekerabatan, plus hubungan dengan klien.

Jadi akhirnya, untuk meningkatkan dan mempertahankan semangat kerja yang menumpuk dan padat ini, saya nyoba mengisi waktu-waktu di saat isitrahat dengan beberapa aktifitas yang mungkin bisa disebut sensasi. Ya iyalah saya namakan sensasi, karena aktifitas ini bisa meningkatkan semangat dan aktifitasnya yang dulu ngga pernah saya lakukan. Kegiatan ini saya lakukan saat saya istirahat, yaitu pas ngerender video yang makan waktu berjam-jam, bahkan bisa 12 – 16 jam.

difoto pake Exynos .. 🙂

Continue reading “Meningkatkan Semangat Kerja dengan Aktifitas yang Sensasional”

Enaknya Naik Mobil New Mirage Matic di Jakarta

1426693525375844166
Mitsubishi New Mirage

Jakarta tuh lalu lintasnya padat. Apalagi di jam sibuk. Para pemikir negara aja pusing mengurusi kemacetan ibukota, dan juga kota-kota di seluruh propinsi yang hampir semuanya padat. Jalanan sudah dilebarkan, tetap saja berasa sempit saat mobil-mobil keluar di jalan raya. Aturan demi aturan pun dibuat untuk mengatasi kemacetan. Tapi hasilnya ya sama, tetap saja kemacetan selalu terjadi. Bahkan kadang kemacetannya pun sudah tidak masuk akal. Ingat kan kalau saat mudik menembus jalan tol? Jangankan di hari raya atau hari libur, di hari biasa saja, jalan tol yang diperuntukkan untuk jalan bebas hambatan, malah paling tinggi hambatannya. Padahal sudah bayar untuk menghilangkan hambatan. :))

Solusi yang paling memungkinkan saat kita ingin mempunyai mobil untuk menembus kemacetan kota dan hunian yang kian rapat, adalah kendaraan yang lincah dan tidak merongrong. Banyak yang menggunakan motor. Namun untuk kendaraan keluarga? Ya mobil lah yang harus dimiliki. Namun mengingat kemacetan tersebut, apalagi untuk keluarga yang tinggal di perumahan sempit, dengan jalan-jalan perkampungan yang sempit, mobil keluarga yang kecil menjadi pilihan teratas untuk mengatasinya. Continue reading “Enaknya Naik Mobil New Mirage Matic di Jakarta”