Setia, Ayu, Ranum dan Cinta

 

.

Hening. Jangkrik meringkik. Warga desa mendengkur. Angin menderu pelan. Bulanpun sembunyi.

Tiba-tiba kegelapan pecah oleh raungan mobil yang melesat seakan dikejar ratusan anjing. Decit ban oleng, sesekali merobek tanaman pinggir jalan. Setia panik di belakang kemudi. Jantungnya berpacu. Matanya sibuk, membagi banyak pandangan, antara jalanan sempit berliku, pepohonan yang seakan tiba-tiba muncul, dan kucuran darah yang mengalir dari sela paha Ranum, serta wajah pucat Ranum yang tak henti-hentinya mengerang.

“Bang, aku tak tahan, Bang!”

“Sabar, Num. Bertahanlah!”

“Baaannggg!”

Setia makin tak sanggup mendengarnya. Kekacauan itu menjalangkan matanya untuk bertempur dengan pikiran yang berkecamuk.

“Silakan. Pergilah ke wanitamu itu. Besarkan bayimu, tapi jangan lagi mencari kami” ucap Ayu, istrinya, tadi pagi. Dari balik jendela kamar, Cinta, anak gadis semata wayangnya, hanya memandang.

Petir menggelegar. Hujan tumpah deras. Kunang-kunang terbang kacau di sela pepohonan, berkejaran, memendarkan cahaya laksana ratusan mata liar, bergentayangan, menyalak riuh, serta menyihir Setia yang makin labil.

“Baaaang, aku tak tahan lagi, Baaang!”

Di sela-sela derunya tumpahan hujan di jendela, dan erangan Ranum, handphonenya berdering. Setia menyempatkan menengok smartphonenya. Ada pesan masuk. “Abang. Seragam putih-putihmu sudah kusiapkan. ID card-mu sudah kutemukan. Sepatumu juga sudah kusemir. Jangan terlambat di acara kenaikan pangkatmu nanti pagi, ya.” Dari istrinya.

Setia termenung membacanya. Matanya menjadi sayu. Batinnya bergemuruh. Tak didengarnya Ranum yang berteriak kencang karena kaget dengan munculnya pohon besar di tikungan tajam. Cengkraman tangan Ranum menyadarkannya. Hujan deras mengaburkan pandangan kaca depan mobil. Setia membanting setir ke kanan. Mobil pun melintir, menghantam pohon, meremukkan bagian kiri mobil, memecahkan kaca mobil, memecahkan kepala Ranum.

Mobil terpantul ke depan, terperosok ke bukit yang menurun dan licin. Berguling kencang, menabrak bebatuan, membuat mobil memantul laksana bola karet.

Setia melayang.

Terbayang senyum Ayu.

Terbayang tawa Cinta.

Terbayang tatapan ayahnya, yang berpesan, “Buahilah. Kau harus teruskan darah kita, dengan anak laki-laki.”

.

*) Pernah ditayangkan setahun lalu di Flash Fiction Challange – Ubud Writers and Readers Festival. Namun karena ketidakjelasan dan ketidakprofesionalan panitia, saya tayangkan kembali di sini.

Advertisements

Flash Fiction : Wajahmu

.

Pematung itu diam terpaku di depan patungnya.

“Kok bibirnya seperti itu, Den?” ucap si mbok sambil meletakkan kopi di samping peralatan pematung itu.

“Ada yang salah dengan bentuk bibirnya ya, Mbok?”

“Iya, Den. Kalau bentuknya begitu, seperti mencibir, Den.”

“Kalau seperti ini, Mbok?”

“Kok menyeringai? Ngga tulus ya senyumnya?”

“Hmm. Gitu ya, Mbok?”

“Lha, bibirnya jangan dibuka begitu, Den. Terlalu banyak cakap, Den.”

“Ya terus gimana dong, Mbok?”

“Nah, mungkin itu lebih menarik, Den.”

“Hmm…”

Pematung itu kembali diam terpaku di depan patungnya yang sejak tadi masih polos.

.

—————————————–

Terinspirasi dari komentar Om Dwiki Setiyawan di album fotonya di FB “Namanya saja pemotret, maka musti rela bila sedikit kepotret.” Terima kasih, Om.

Ditayangkan pula di Kompasiana

Flash Fiction : Nduk…

.

“Nduk, bapak cuma bisa ngasih bintang, cuma bisa ngasih angin, cuma bisa ngasih daun-daun. Bapak ngga bisa ngasih apa-apa. Ndak apa-apa, ya, nduk. Bapak kangen ama kamu, Nduk. Nanti kita main lagi, ya. Bapak pulang dulu. Besok ke sini lagi.”

Lelaki itu meninggalkan bekas telapak ke nisan. Kehangatan terus berbekas walau dingin menjalar.

.


Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Flash Fiction : Kopi Pahit

“Bapak, tebu-tebu ini kapan panennya?”

“Tidak lama lagi.”

“Asyik. Nanti aku boleh ikut manen, ya, Pak.”

“Hehehe. Boleh.”

Si anak tersenyum ceria. Pasti seru kegiatan memanen tebu bersama teman-temannya, yang selalu kagum dengan cerita tentang ladang tebu itu. Selama ini si anak selalu membanggakan ladang tebu milik bapaknya. “Nanti akan kubangun pabrik gula. Bapakku bilang tebu itu penting untuk hidup. Biar ada rasa manisnya.”

Si Bapak menyeruput kopi. Si anak memperhatikan.

“Bapak, kenapa sih? Masa Bapak punya ladang tebu tapi minumnya kopi pahit sih?”

Si Bapak tersenyum. Masih terngiang di pikiran Bapak bagaimana kepala desanya tertunduk lesu memberikan kabar ke Bapak kalau minggu ini adalah panen tebu  terakhir. “Ladang ini harus saya jual,  katanya akan menjadi waduk,” kata kepala desa sebagai pemilik ladang tebu itu.

*

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Flash Fiction : Di Lampu Merah

Sambil bergegas ke jendela mobil belakang, dia menyubit pantat balita di gendongannya agar menangis lebih keras. Dia semakin kurus, kucel dan legam. Berbeda 180% dengan saat dia jadi biduan di kampungku. Berbeda setelah bandot tua memboyongnya ke kota. Berbeda setelah dia melempar undangan pernikahanku dengannya.

Aku hanya bisa mengintipnya dari kaca spion. Istriku sibuk menyiapkan paspor dan tiket pesawat. Kedua anakku masih asyik menulis status di Blackberrynya.

Hujan mulai turun. Fajar mulai hadir. Lampu merah sudah berganti hijau. Klakson cacimaki mulai riuh.

.

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Flash Fiction : Subuh Itu…

Lelaki itu tersungkur di jalan raya. Badannya berkejut-kejut, busa putih keluar dari mulutnya. Matanya kosong. Selembar slip gaji terbang dari tangannya. Di belakangnya, dengusan bis malam tidak bisa menghindar.

Takbir Idul Fitri terus menggema.

.

Ditayangkan pula di Kompasiana

.

Flash Fiction : Dia Anakku

Harusnya dulu tidak kubiarkan dia pergi dengan penipu itu, sehingga tidak akan kulihat senyum dan tatapan matanya, yang kini terpancar pada seorang gadis yang melambai genit untuk pamit pulang. Mirip sekali. Dan kini aku mual tak tertahankan, karena tadi telah membayarnya untuk satu kenikmatan.

Dia menyebut namanya. Namaku ada di nama belakangnya.

Pijar bohlam motel berpendar. Suara wanita-wanita nakal makin riuh menggoda pejalan kaki, berlomba dengan alunan musik dan dentingan botol bir.

.

Ditayangkan pula di Kompasiana

.