Boriska, Anak Indigo, Yang Pernah Mampir Di Peradaban Lumiere (900.000 Sm) – Bagian Kedua

Lanjutan dari Sisi Lain Dari Boriska, Anak Indigo, Yang Mengaku Pernah Hidup Di Planet Mars (Bagian Pertama)

Melanjutkan cerita kenapa Boriska bisa dikagumi oleh ilmuwan dunia, termasukprofesor dan peneliti di Russian University bernama Gennady Belimov.planetx-hercolubus-nibiru.blogspot.com/2010/11/extraterrestrials-news-boriska-boy-from.html.

Selain bercerita tentang kehidupan masa lalunya di Planet Mars, Boriska juga pernah pergi ke bumi untuk penelitian. Dia menerbangkan sendiri pesawat luar angkasanya. Ini terjadi saat adanya peradaban Lumiere. Boriska juga mengakui pernah berteman dengan seorang bangsa Lemurie yang mati terbunuh di depan matanya.

Teman-teman Mindtalk.mindtalk.com mungkin sudah ada yang tahu cerita tentang Peradaban Lumiere, ya. Oke, di sini saya akan sedikit cerita tentang Lumiere (bukan Limoliya, seperti yang @elzanisa tulis di artikel Borischa, Anak Yang Berasal Dari Mars!!!.mindtalk.com/#!/post/4e3e2064bf866c1d13001485)

Lumiere adalah suatu peradaban jaman dahulu, terletak di Pasifik Selatan, antara Amerika Utara dengan Asia/Australia. Lumiere juga disebut-sebut merujuk pada Benua Mu, atau Motherland. Peradaban Lumiere muncul sebelum peradaban Atlantis, yaitu antara tahun 900.000 tahun sebelum Masehi hingga 25.000 sebelum Masehi. Sementara peradaban Atlantis muncul antara 400.000 SM hingga 10.000 SM.

K8wp1l jpg

Yang keren dari Bangsa Lumiere adalah mereka berkomunikasi menggunakan telepati, dan ada guru India menyebutkan kalau bangsa Lumiere itu bangsa yang sangat maju.

Continue reading “Boriska, Anak Indigo, Yang Pernah Mampir Di Peradaban Lumiere (900.000 Sm) – Bagian Kedua”

Advertisements

Sisi Lain Dari Boriska, Anak Indigo, Yang Mengaku Pernah Hidup Di Planet Mars (Bagian Pertama)

Artikel yang dua tahun lalu pernah ditayangkan di Mindtalk.

Setelah membaca artikel @elzanisa ttg Borischa, Anak Yang Berasal Dari Mars!!! saya jadi tertarik untuk melacak si Boriska ini (nama aslinya BORISKA atau panggilannya BORIS .. bukan Borischa)
Oh, ya, sebelumnya saya minta ijin dulu ke @elzanisa dan @glaudiee
yang juga sudah menjelaskan ttg Boriska di channel #EXTRA.TERRESTIAL .Dan seperti biasa, maaf kalau memang sudah ada yang memberitahukan lebih dahulu tentang siapa sebenarnya si Boriska ini.
Awalnya, memang mungkin dari pemberitaan satu situs Rusia di internet pada Maret 2004 itu, dan kemudian saat ada pihak yang menceritakannya di internet kembali dan dengan bahasa Inggris, maka berbondong-bondonglah orang mencari tahu tentang Boriska. Continue reading “Sisi Lain Dari Boriska, Anak Indigo, Yang Mengaku Pernah Hidup Di Planet Mars (Bagian Pertama)”

Seven Something, Film Thailand Yang Akan ‘Booming’ Menjelang Lebaran

1344379287539358601

Hari Jumat besok tanggal 10 Agustus 2012, Blitz Megaplex akan mengadakan premiere film SEVEN SOMETHING, yang berlokasi di lantai 8 Grand Indonesia, Jakarta. Film ini berasal dari Thailand, yang diproduksi oleh GTH (GMM Tai Hub). Penayangan perdana film ini di Blitz Megaplex menjadi istimewa karena akan dihadiri langsung oleh beberapa pendukungnya, antara lain 3 pemainnya (‘Punpun’ Suthata Udomsilp, Cris Horwang, Sunny Suwanmethanont) dan 3 sutradaranya (Paween Purijitpanya, Adisorn Tresirikasem, Jira Maligool).  Setahu saya, di tahun 2007, artis Thailand Marsha Wattanapanich pernah datang ke bioskop Blitz di Grand Indonesia untuk mempromosikan film horor ALONE yang diproduksi oleh GTH juga. Continue reading “Seven Something, Film Thailand Yang Akan ‘Booming’ Menjelang Lebaran”

“Saya Ditegur,” kata Dahlan Iskan

 

“Saya ditegur,” kata Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI di Bundaran HI. “Saya pakai sepatu hasil jerih payah saya sendiri. Dulu semasa kecil saya kemana-mana tidak pakai sepatu. Sekarang sudah bisa beli sepatu, apalagi karena sekarang sudah jadi pejabat, saya pakai sepatu yang bagus. Sepatu buatan Amerika,” ujarnya.

“Tapi, dengan buku yang berjudul “Sepatu Dahlan” ini, saya merasa ditegur. Karena itu saya akan buang sepatu ini, dan diganti dengan sepatu buatan dalam negeri.” Itulah yang dikatakan Dahlan Iskan di sela-sela peluncuran novel “Sepatu Dahlan” Minggu pagi ini, 27 Mei 2012. Acara ini diselenggarakan di sela-sela Car Free Day, bertempat di samping Grand Indonesia.

13380910143022855
Sepatu yang siap dibuang

Setelah itu, Pak Dahlan Iskan mencopot sepatu abu-abunya, dan melemparkan sepasang sepatunya itu ke penonton. Kemudian ia memakai sepatu hitam, dengan sebelumnya menunjukkan ke hadirin kalau, “Ini buatan lokal. Mereknya DI-19. Kenapa 19? Itu adalah landasan kita sebelum beraktifitas, yaitu kalimat basmalah yang terdiri dari 19 huruf. Ucapkan basmalah sebelum melangkah.” Huruf DI sendiri adalah Demi Indonesia. (Bukan Dahlan Iskan 2019, ya, Pak? .. 😀)

Continue reading ““Saya Ditegur,” kata Dahlan Iskan”

Senja dan Kata-kata

.

Sesenja itu, lembut angin memainkan anak-anak rambutmu yang duduk di sampingku. Seperti biasa, kamu memeluk lututmu, menaruh dagu indahmu, menatap cekung air danau hening di depanmu. Barisan cemara yang tertiup merunduk pun seakan memelukmu, berjejer bersama dalam lamunmu.

Di sini, di ujung dermaga, aku menemanimu dengan kadang melemparkan kerikil meriakkan air, menyentuh sunyi yang masih membias dari manis sendunya wajahmu. Mata kanak-kanakmu menerawang ke hamparan selendang panjang jingga yang melayang di atas bukit untuk sebentar lagi sembunyi.

“Mengapa puisi begitu mudah tercipta kala senja begini?” gumammu. Kutoleh kamu yang enggan membalas.

“Mengapa puisi seringkali berlatar senja?” gumammu lagi.

“Senja itu jingga,” kataku sekenanya. Kamu melirik, dan aku tak pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Kuberanikan diri menatap matamu. Ada degup di jantungku, meletup membeku. Ah, tak bisa kugambarkan betapa indahnya binar matamu. Inilah yang selalu membuatku merindu. Tapi …

Kamu kembali memeluk lututmu.

“Kau sedang mencipta puisi?” tanyaku memecah keheningan.

Kini kamu menoleh. Bayanganku terpantul jelas di mata jernihmu.

Continue reading “Senja dan Kata-kata”

Bermain Salju di Youtube

.

Beberapa hari yang lalu, Google mengeluarkan easter egg-nya di halaman pencarian dengan kata kunci “let it snow“, yang setelah kita ketikkan kata itu, maka turunlah salju-salju di halaman tersebut. Animasi salju akan menumpuk dan membekukan halaman pencarian tersebut, dan berakhir jika muncul kata “Defrost“. Tapi salju yang membeku itu, bisa juga dihentikan jika kita ketikkan kembali kata kunci “Defrost“.

“Let it snow”  masih bisa dimainkan hingga kini. Coba saja ke sini.

Situs pemendek kode halaman situs, yaitu Bitly, juga menyisipkan script snow ini ke halaman awalnya lho. Silakan cek ke sini. Untuk menghentikan salju yang turun, ada tombol stop snowing di pinggir kanan. Oh, ya, yang muncul itu bukan tampang Babeh, ya. 13246193791927300491

Beberapa bulan yang lalu juga pernah Google menyisipkan script easter egg semacam ini di kolom pencarian, dan hingga kini masih bisa dimainkan. Silakan ketik kata “Do a Barrel Roll” di kolom pencarian Google. Lihat apa yang akan terjadi saat mengetikkan huruf terakhir. Continue reading “Bermain Salju di Youtube”

Jika Listrik di Rumah Padam

.

Entah kenapa malam ini sepi sekali. Tidak ada suara di luar rumah. Suasana hening seperti ini yang sering membuat Rini, yang harus bekerja memeriksa artikel-artikel di rumah, menjadi gusar. Jika ada suatu gerakan apapun pasti akan terlihat menjadi jelas. Entah itu kertas putih yang bergerak karena disapu angin ataupun jarum jam yang bergerak. Begitu juga dengan suara. Suara jarum jatuh pun akan terdengar jelas di telinga.

Saat Rini sedang asyik membaca artikel di komputer, tiba-tiba bayangan hitam melesat di pintu kamar. Wuzzzz. Entah apa itu. Spontan Rini menengok. Tidak ada apa-apa di sana. Rini termangu. Untuk meyakinkannya, dia memeriksa ke luar kamar. Hanya kesunyian yang ada di ruang tamu.

Kembali ia berkutat dengan pekerjaannya. Namun belum satu menit bekerja, ia digoda sesuatu. Layar monitor komputernya berkedip. Rini terdiam. Lalu ia berdiri, melihat kabel-kabel di belakang monitor.

Terdengar bunyi di luar kamar. Semacam desis. Rini menengok. Dia mendongakkan kepalanya, melihat ke arah ruang tamu dan mencoba mendengarkan jika ada bunyi-bunyian lagi di sana. Walau sudah ditajamkan pendengarannya, tetap saja kesunyian yang hadir. Tidak ada apa-apa. Kembali ia melihat kabel untuk memeriksa jalurnya.

Tak berapa lama terdengar lagi bunyi desis di luar. Rini pun terdiam. Namun kali ini Rini tak mau menengok. Hanya pendengarannya saja yang kembali dipertajam. Pikirannya menerawang, berharap itu hanyalah suara tikus. Continue reading “Jika Listrik di Rumah Padam”